
Revitalisasi Agroforestri di Hulu Citarum: Upaya KPS Mencil Lestari Menuju Ketahanan Ekologis dan Ekonomi 2030
Pemerintah Indonesia telah menetapkan target ambisius melalui komitmen Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, di mana sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya diharapkan menjadi penyerap karbon bersih pada tahun 2030. Sebagai bagian dari implementasi strategi nasional ini di tingkat tapak, KPS Mencil Lestari di Desa Cihawuk, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, mengambil peran strategis melalui kegiatan “Pelatihan Peningkatan Awareness Agroforestri Berbasis Warisan Budaya”. Lokasi Desa Cihawuk dipilih bukan tanpa alasan; berdasarkan analisis tumpang susun (overlay) izin perhutanan sosial, rencana rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), serta klasifikasi lahan kritis, wilayah ini merupakan area prioritas intervensi yang membutuhkan pemulihan ekologis segera melalui keterlibatan aktif masyarakat lokal. Revitalisasi ini tidak hanya diposisikan sebagai upaya teknis penanaman pohon, tetapi sebagai strategi kunci untuk menjaga fungsi hidrologis dan ekologis hutan sembari memperkuat identitas budaya dan partisipasi ekonomi masyarakat di hulu Citarum.
Pelaksanaan pelatihan yang berlangsung pada Rabu, 1 Oktober 2025, di Madrasah Al-Hidayah, Kampung Pinggirsari, menjadi tonggak awal yang krusial bagi warga Desa Cihawuk. Kegiatan ini dihadiri oleh 100 peserta yang merepresentasikan berbagai elemen masyarakat, mulai dari anggota kelompok perhutanan sosial hingga tokoh masyarakat berpengaruh. Salah satu aspek yang menonjol dalam pelaksanaan ini adalah komitmen terhadap inklusivitas dan kesetaraan gender; laporan mencatat bahwa kehadiran perempuan dan pemuda mencapai 23%, sebuah angka yang melampaui target representasi yang telah ditetapkan. Melalui kehadiran elemen-elemen ini, pesan mengenai pentingnya pertanian berkelanjutan dapat tersampaikan secara lebih luas ke berbagai lapisan struktur sosial di desa, memastikan bahwa transformasi lahan tidak hanya didominasi oleh satu kelompok umur atau gender saja.


Secara metodologis, pelatihan ini menggunakan pendekatan interaktif yang menggabungkan paparan teori, diskusi kelompok, dan refleksi langsung terhadap kondisi lapangan. Struktur acara dirancang dengan sistem one-group pretest-posttest untuk mengukur efektivitas transfer pengetahuan yang diberikan oleh para ahli. Tiga narasumber utama memberikan perspektif yang saling melengkapi: Fakhrur Rozi, S.Si., M.Si. mengupas strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui sistem agroforestri; Firman Santosa, S. Farm., MM.Kes. dari AP2SI menyosialisasikan manfaat program revitalisasi; serta Dr. Gemilang Lara Utama, S.Pt., M.I.L. yang mendalami peran kelembagaan LPHD/KTH dalam mencapai target FOLU Net Sink 2030. Rangkaian materi ini dirancang sebagai scaffolding kognitif, di mana informasi baru tentang kebijakan nasional dikaitkan langsung dengan praktik tradisional yang sudah lama hidup di memori jangka panjang masyarakat Cihawuk.
Inti dari materi pelatihan adalah pengenalan kembali sistem agroforestri multistrata, sebuah metode pemanfaatan lahan berlapis yang meniru struktur alami hutan untuk memaksimalkan manfaat ekologis dan ekonomis. Dalam desain ini, lahan dibagi menjadi tiga lapisan vertikal: lapisan atas diisi oleh pohon pelindung dan tanaman MPTS (Multi-Purpose Tree Species) seperti damar, alpukat, dan bambu; lapisan tengah dimanfaatkan untuk komoditas bernilai tinggi seperti kopi dan vanili; sementara lapisan bawah tetap dapat digunakan untuk tanaman sayuran dan penutup tanah. Sistem ini menawarkan alternatif yang jauh lebih berkelanjutan dibandingkan dengan pertanian monokultur sayuran intensif yang selama ini banyak dipraktikkan, yang cenderung bergantung tinggi pada input kimia non-organik dan rentan memicu degradasi lahan serta erosi. Dengan agroforestri multistrata, petani tidak hanya mendapatkan penghasilan dari sayuran, tetapi juga memiliki tabungan jangka panjang dari kayu-kayuan dan buah-buahan, sekaligus menjaga kesuburan tanah secara alami.
Hasil evaluasi menunjukkan kemajuan yang sangat positif dalam kapasitas kognitif peserta. Sebelum pelatihan dimulai, hasil pre-test menunjukkan bahwa sekitar 62% peserta sebenarnya sudah memiliki pemahaman dasar mengenai agroforestri, terutama karena aktifnya ketua KPS dalam menginisiasi penanaman tanaman hasil hutan bukan kayu (HHBK) di area tersebut. Setelah pelatihan intensif selama setengah hari, angka ini meningkat menjadi 72%, atau terdapat kenaikan sebesar 10 poin persentase. Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan peserta dalam membedakan fungsi ekologis yang lebih dalam, seperti bagaimana sistem multistrata membantu pengendalian erosi, meningkatkan kadar bahan organik tanah, serta menciptakan mikroklimat yang lebih sejuk yang mendukung produktivitas tanaman utama. Pengetahuan deklaratif ini kini telah tertanam, memberikan sinyal bahwa masyarakat Cihawuk siap untuk melangkah dari tahap pemahaman menuju tahap penerapan praktik di lapangan.

Selain aspek pengetahuan, laporan ini menekankan pada penguatan motivasi dan komitmen sosial masyarakat dalam mengelola lahan secara bijak. Salah satu isu krusial yang diangkat adalah problematika air, di mana warga Desa Cihawuk sering menghadapi kesulitan distribusi air untuk irigasi dan kebutuhan harian, terutama saat musim kemarau. Pelatihan ini memberikan solusi konkret dengan menunjukkan bahwa teknik agroforestri sederhana—seperti pembuatan teras kontur, rorak atau sumur resapan, serta sabuk vegetatif menggunakan bambu atau vetiver—dapat secara signifikan memperbaiki daya serap tanah terhadap air hujan. Lebih dari sekadar solusi teknis, pelatihan ini merevitalisasi nilai-nilai lokal Sunda seperti silih asah, silih asih, silih asuh sebagai landasan sosial untuk memperkuat kesepakatan tata bagi air dan kerja gotong royong lintas RT dan kelompok. Dengan memadukan teknologi konservasi dan kearifan lokal, potensi konflik antarwarga akibat perebutan sumber daya air dapat diminimalisir melalui musyawarah dan kesepakatan yang adil.
Sebagai langkah tindak lanjut, laporan tersebut merekomendasikan perlunya pendampingan teknis yang berkelanjutan untuk mengubah pengetahuan peserta menjadi keterampilan praktis. Diperlukan pembangunan demplot (kebun percontohan) agroforestri di wilayah KPS Mencil Lestari yang berfungsi sebagai ruang praktik langsung bagi petani untuk mempelajari teknik pemeliharaan, pemangkasan pohon pelindung, hingga pengendalian hama terpadu rendah input. Di tingkat kelembagaan, KPS Mencil Lestari diharapkan dapat bertindak sebagai simpul koordinasi dalam pengadaan bibit, pengaturan jadwal kerja bersama, serta pengelolaan logbook kegiatan untuk memastikan seluruh aktivitas terdokumentasi dengan baik. Dengan penguatan kelembagaan di tingkat tapak, praktik agroforestri ini diharapkan tidak hanya berhenti pada kelompok peserta pelatihan, tetapi dapat direplikasi secara luas oleh petani lain di desa-desa sekitar hulu Citarum.

Kesimpulannya, kegiatan di KPS Mencil Lestari ini telah berhasil membangun fondasi yang kokoh bagi transformasi pengelolaan lahan di Desa Cihawuk. Masyarakat kini tidak hanya memiliki kesadaran akan pentingnya kelestarian hutan, tetapi juga memiliki motivasi yang kuat untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya warisan leluhur ke dalam inovasi pertanian modern yang berkelanjutan. Keberhasilan transisi dari sistem monokultur ke agroforestri berbasis budaya ini akan menjadi kontribusi nyata masyarakat lokal Bandung bagi pencapaian target emisi nasional sekaligus menjamin kesejahteraan ekonomi mereka sendiri. Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan kelompok perhutanan sosial, Desa Cihawuk kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi model desa mandiri yang selaras dengan alam.
Untuk laporan kegiatan lengkap dapat di unduh pada link berikut :
