Kegiatan Pelatihan Peningkatan Awareness Agroforestri Berbasis Warisan Budaya di LPHD Wanajaya

Transformasi Kehutanan Masyarakat: Revitalisasi Agroforestri Berbasis Warisan Budaya di Desa Cikembang

1. Pendahuluan dan Konteks Strategis Kegiatan pelatihan yang diselenggarakan di Desa Cikembang, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah strategi integratif untuk menjawab tantangan ekologis dan ekonomi di Jawa Barat. Latar belakang utama dari inisiatif ini adalah kebutuhan mendesak untuk menyeimbangkan fungsi ekologis hutan dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal. Wilayah Kertasari saat ini menghadapi dinamika pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang memicu perubahan tata guna lahan, di mana lahan kering, ladang, dan perkebunan mendominasi pemandangan, namun seringkali mengabaikan aspek konservasi.

Secara makro, kegiatan ini merupakan manifestasi dari komitmen nasional Indonesia menuju FOLU (Forestry and Other Land Use) Net Sink 2030. Dalam kerangka kerja ini, agroforestri diposisikan sebagai instrumen kunci untuk mengubah sektor kehutanan menjadi penyerap karbon bersih melalui peningkatan stok karbon pada vegetasi dan tanah. Di tingkat lokal, LPHD Wanajaya dipilih sebagai mitra prioritas berdasarkan analisis spasial yang memastikan intervensi dilakukan pada area yang secara legal memiliki izin perhutanan sosial namun secara ekologis berstatus kritis dan membutuhkan pemulihan.

2. Pelaksanaan dan Metodologi Kegiatan Pelatihan ini dilaksanakan pada Rabu, 10 September 2025, bertempat di Balai Desa Cikembang. Peserta yang hadir berjumlah 100 orang, yang terdiri dari anggota Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) dan tokoh masyarakat setempat yang memiliki peran sentral dalam pengelolaan bentang lahan. Meskipun target inklusivitas menetapkan partisipasi perempuan dan pemuda sebesar 20-30%, realisasi di lapangan hanya mencapai 15%, yang menunjukkan adanya tantangan dalam distribusi informasi di tingkat kelompok masyarakat tertentu.

Metodologi pelatihan menggunakan desain one-group pretest–posttest. Rangkaian acara dimulai dengan pre-test untuk mengukur basis pengetahuan peserta, diikuti dengan dua sesi materi utama:

  • Materi I: Disampaikan oleh Fakhrur Rozi, S.Si., M.Si., fokus pada strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui agroforestri multistrata.
  • Materi II: Disampaikan oleh Dr. Gemilang Lara Utama, S.Pt., M.I.L., yang mensosialisasikan peran agroforestri dalam mencapai target nasional FOLU Net Sink 2030 dan penguatan kelembagaan LPHD/KTH. Kegiatan ditutup dengan post-test dan pengisian kuesioner komitmen untuk mengukur efektivitas pembelajaran serta kesiapan adopsi teknologi oleh petani.

3. Substansi Teknis: Konsep Agroforestri Multistrata dan Budaya Salah satu capaian terpenting dari pelatihan ini adalah pemahaman peserta mengenai sistem agroforestri multistrata. Konsep ini membagi pemanfaatan lahan ke dalam lapisan-lapisan vertikal yang meniru struktur hutan alami:

  • Lapisan Atas: Diisi oleh tanaman MPTS (Multi-Purpose Tree Species) dan pohon pelindung seperti damar, alpukat, dan bambu.
  • Lapisan Tengah: Diisi oleh komoditas bernilai ekonomi tinggi namun membutuhkan naungan, seperti kopi, lada, dan vanili.
  • Lapisan Bawah: Diisi oleh tanaman sayuran atau tanaman penutup tanah untuk menjaga kelembapan.

Pendekatan ini sengaja dikaitkan dengan “Warisan Budaya” karena masyarakat Cikembang secara tradisional telah mengenal pola tanam campuran. Dengan mengintegrasikan nilai budaya seperti gotong royong dalam penanaman dan musyawarah dalam pembagian hasil, program ini berupaya memperkuat modal sosial dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap lahan yang mereka kelola.

4. Analisis Hasil: Peningkatan Kapasitas Kognitif Data evaluasi menunjukkan hasil yang sangat positif. Pengetahuan peserta meningkat signifikan sebesar 20 poin persentase, dari rata-rata pemahaman awal 36% (pre-test) menjadi 56% (post-test). Sebelum pelatihan, mayoritas petani hanya melihat agroforestri sebagai sistem tanam campuran sederhana tanpa menyadari fungsi ekologisnya. Pasca-pelatihan, mereka mulai mampu mengidentifikasi manfaat sistem ini dalam:

  • Pengendalian erosi dan pemeliharaan kesuburan tanah melalui penambahan bahan organik.
  • Penciptaan mikroklimat yang stabil yang mendukung produktivitas tanaman utama seperti kopi.
  • Diversifikasi pendapatan yang mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas sayuran yang harganya fluktuatif di pasar.

Meskipun peningkatannya cukup besar, laporan mencatat bahwa pemahaman peserta masih berada pada tahap konseptual dan belum sepenuhnya mencapai level aplikatif. Peserta masih membutuhkan pendampingan teknis dalam hal perencanaan ruang tanam, jadwal pemeliharaan, serta perhitungan produktivitas ekonomi yang lebih detail.

5. Evaluasi Motivasi dan Komitmen Adopsi (Konatif) Laporan ini menyoroti tingkat antusiasme masyarakat yang luar biasa, yang diukur melalui empat indikator utama kesediaan:

  • Ketertarikan Konsep (95%): Hampir seluruh peserta tertarik pada konsep agroforestri berbasis warisan budaya. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan yang menyentuh sisi kearifan lokal lebih mudah diterima dibandingkan pendekatan teknokratis murni.
  • Partisipasi Program (93%): Mayoritas peserta berkomitmen untuk terlibat aktif dalam program penanaman fisik yang akan datang. Ini merupakan modal sosial yang vital bagi LPHD Wanajaya dalam merancang demplot percontohan di lapangan.
  • Diversifikasi Tanaman (95%): Ada kesiapan besar untuk menanam tanaman selain kopi, seperti alpukat, pisang, manglid, hingga rempah-rempah (jahe, kapolaga). Hal ini penting untuk memulihkan area terbuka yang rentan terhadap limpasan air hujan.
  • Transformasi Lahan Sayur (76%): Meskipun angka ini sedikit lebih rendah dibanding indikator lain, fakta bahwa tiga perempat peserta bersedia mengalihkan sebagian lahan sayur mereka ke agroforestri adalah sebuah pencapaian besar. Keraguan sisa 24% peserta umumnya disebabkan oleh ketergantungan ekonomi pada panen sayur yang memiliki siklus uang harian yang cepat.

6. Kesimpulan dan Rekomendasi Langkah Lanjut LPHD Wanajaya menyimpulkan bahwa pelatihan ini telah berhasil membangun fondasi awal yang kokoh dalam tiga lapisan: Kognitif (pengetahuan), Afektif (minat/motivasi), dan Konatif (kesiapan bertindak). Masyarakat Cikembang kini telah mencapai tahap readiness for change, di mana mereka siap bertransisi dari pola pertanian monokultur yang merusak menuju sistem agroforestri yang berkelanjutan.
Revitalisasi Agroforestry di Desa Cikembang
Namun, keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada keberlanjutan intervensi pasca-pelatihan. Laporan merekomendasikan beberapa langkah krusial sebagai tindak lanjut:

  1. Sekolah Lapang Agroforestri: Melakukan pembinaan rutin untuk memperdalam aspek teknis aplikatif.
  2. Pembuatan Demplot Percontohan: Menyediakan contoh nyata di lapangan bagi petani yang masih ragu untuk mengalihkan lahan sayurnya.
  3. Penguatan Kelembagaan: Mendorong peran LPHD dan KPS sebagai simpul koordinasi untuk pengadaan bibit, jadwal kerja bersama, dan pencatatan logbook kegiatan sebagai bagian dari tata kelola kolaboratif.

Dengan demikian, inisiatif di Desa Cikembang ini diharapkan dapat menjadi model replikasi bagi wilayah lain di Jawa Barat, memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian hutan sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat berbasis warisan budaya lokal.

 

Untuk laporan kegiatan lengkap dapat di unduh pada link berikut :

https://go.unpad.ac.id/kegiatanfolunc2025