Kopi telah lama menjadi denyut nadi ekonomi masyarakat di pegunungan Bandung Selatan. Namun bagi banyak petani kecil seperti Usep Sirod, pengurus KUPS Mencil Lestari, posisi mereka dalam rantai nilai kopi sering kali berada di titik paling lemah. Mereka menanam, memanen, dan bekerja keras, tetapi nilai tambah terbesar justru dinikmati pihak lain. Dari kegelisahan itulah perjalanan perubahan ini dimulai.
Melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis komoditas lokal yang digagas Universitas Padjadjaran bersama IWF sebagai bagian dari Program FOLU Net Sink 2030 Norway Contribution (NC) 2&3, perjalanan perubahan ini mulai menemukan jalannya.
Jangan Sampai Kopi Ini Hanya Menguntungkan Orang Lain
Di berbagai bagian percakapan, ada satu kalimat yang terus diulang oleh Pak Usep—sebuah renungan sederhana namun tajam:
“Jangan sampai kopi ini hanya menguntungkan orang lain, sementara kita sebagai petani tidak merasakan hasilnya.”
Baginya, keberhasilan usaha kopi seharusnya juga menjadi keberhasilan masyarakat desa. Ada beberapa hal yang ia inginkan sejak awal:
- Petani tidak boleh hanya jadi pemasok bahan mentah.
- Harus ada pengolahan di tingkat kelompok, agar nilai tambah tetap tinggal di kampung.
- Masyarakat harus ikut terlibat, bukan hanya satu dua orang.
Harapan itu tumbuh di tengah keterbatasan alat, tenaga, dan akses pasar yang selama ini membuat mereka seperti berlari di tempat.
Bantuan Mesin: Perubahan yang Datang Seperti Mimpi
Segalanya berubah ketika bantuan mesin—pulper, huller, roaster, dan pengolah lainnya—datang ke desa mereka melalui dukungan Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan FOLU Net Sink 2030 NC 2&3. Proses yang biasanya memakan tenaga dan biaya, tiba-tiba menjadi lebih ringkas dan terjangkau.
“Sejak ada mesin-mesin ini, Alhamdulillah jadi lebih ringan,” ujar Pak Usep.
Sistem yang dahulu serba manual mulai bergeser ke arah yang lebih produktif. Jika sebelumnya mereka harus pergi jauh hanya untuk menggiling cherry kopi, kini semua dapat dilakukan di desa sendiri. Efisiensi meningkat, waktu terpangkas, dan biaya transportasi ditekan.
Gambar 1. Pak Usep Sirod Anggota Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) Mencil Lestari
Namun bagi Pak Usep, yang paling membekas bukanlah sekadar kepraktisan mesin itu:
“Yang paling berkesan itu saya dulu sama sekali tidak menyangka bisa punya mesin-mesin seperti sekarang. Begitu ada UNPAD, prosesnya tidak lama, tiba-tiba mesin-mesin itu datang. Saya sampai merasa seperti mimpi.”
Dalam kalimat sederhana itu, tersimpan kesadaran bahwa intervensi kecil bisa memberi perubahan besar bagi petani kecil.

Gambar 2. Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Mencil Lestari Menerima Hibah Alat Mesin Pengolahan Kopi
Pendampingan: Bukan Sekadar Alat, Tapi Cara Baru Berusaha
Mesin hanyalah satu sisi dari perubahan. Yang jauh lebih penting adalah pendampingan yang datang bersamanya: pelatihan, diskusi, dan arahan tentang bagaimana membangun usaha kopi secara lebih profesional.
“Kegiatannya berupa pelatihan-pelatihan. Kalau dari sisi penjualan, saya belum bisa lebih luas karena belum ada izin-izin resminya,” jelasnya.
Di sinilah tantangan baru muncul. Petani seperti Pak Usep menyadari bahwa mengolah kopi bukan hanya soal teknis produksi, tetapi juga soal legalitas usaha, branding, standar mutu, dan pemasaran—hal-hal yang selama ini tidak pernah mereka sentuh.
“Sejak ada bantuan-bantuan itu, sudah mulai ada perkembangan. Tapi saya memohon dukungan untuk membantu memasarkan kopi kami, supaya kami tidak kerepotan sendiri.”
Pendampingan inilah yang mengubah cara pandang mereka dari “petani tradisional” menjadi “pelaku usaha kopi.” Dan perubahan paling nyata bukan hanya teknis, tetapi juga mental:
“Sekarang rasanya lebih berani. Karena saya merasa tidak berjalan sendiri. Ada yang mendukung.”

Gambar 3. Kegiatan Penerapan Model Bisnis Baru (Pasca Panen, Hilirisasi, dan Pemanfaatan Limbah Kopi)
Dari Penjual Cherry Menjadi Penyangga Kopi Petani Lain
Transformasi paling signifikan yang dialami Pak Usep adalah perubahan perannya dalam rantai pasok kopi.
Jika dulu ia hanya menjual cherry, kini ia mengolah kopinya sendiri. Bahkan lebih jauh:
“Sekarang saya bisa menampung kopi dari luar, dari petani lain juga.”
Ini bukan perubahan kecil; ini adalah lompatan posisi:
- Dari penjual buah mentah menjadi pengolah pascapanen.
- Dari petani individu menjadi penyangga kopi desa.
- Dari penerima harga menjadi penentu nilai tambah.
Bantuan mesin dan pendampingan akhirnya menciptakan efek ganda: memperkuat usaha Pak Usep bersama KPS Mencil Lestari sekaligus membangun titik gravitasi baru bagi jaringan kopi lokal.

Gambar 4. Kulit Cherry Kopi Produk dari Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) Mencil Lestari
Rasa Syukur dan Harapan yang Lebih Besar dari Mesin
Dalam banyak bagian wawancara, Pak Usep berulang kali menyampaikan rasa terima kasihnya:
“Saya mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Semoga semua yang dilakukan menjadi berkah.”
Namun rasa syukur itu selalu diikuti oleh harapan:
“Ke depannya, dukungan UNPAD dan FOLU Net Sink 2030 RBC 2&3 bisa terus berlanjut. Kalau ada bantuan lagi, mudah-mudahan bisa lebih banyak menyentuh keperluan kelompok.”
Inilah inti transformasi yang ingin ia lihat: bukan perubahan individu, tetapi perubahan komunitas.
Kisah Pak Usep memperlihatkan bahwa perubahan dalam rantai nilai kopi rakyat tidak selalu dimulai dari investasi besar. Terkadang, ia lahir dari kombinasi antara alat sederhana, pendampingan yang tepat, dan keberanian seorang petani untuk bermimpi lebih jauh.
Dari tangan-tangan seperti Pak Usep, masa depan kopi rakyat Jawa Barat tengah ditata ulang—lebih adil, lebih kuat, dan lebih mengakar pada mereka yang merawat biji kopi sejak pertama kali ditanam.

