Dari “Jersi” ke Agroforestri: Suara Cihawuk untuk Hutan Lestari dan Masyarakat Sejahtera

Di kaki Gunung Wayang, Desa Cihawuk menyimpan cerita lama yang kembali hidup dalam bentuk baru. Di sini, masyarakat mengenal istilah “jersi”, singkatan dari jejar di sisi—cara menanam di tepi lahan sambil memanfaatkan bagian tengah untuk tanaman pangan. Kini, konsep kuno itu memperoleh istilah modern: agroforestri, sistem integrasi pohon dan tanaman pangan yang menjadi tumpuan program FOLU Net Sink 2030 di Jawa Barat.

“Dulu kami tidak tahu istilahnya agroforestri. Tapi setelah pelatihan kemarin, kami sadar, ternyata yang leluhur kami lakukan selama ini sudah termasuk agroforestri,” ujar Bapak Soleh, pengurus KTH Mencilestari, sambil tersenyum bangga.

Tak jauh dari lokasi yang sama, Bapak Solihin, pengurus KPS Mencilestari, menggemakan pesan serupa: “Secara penanaman, secara pola, ya sama dengan orang-orang tua kita dulu. Bedanya sekarang harus dijaga lebih serius, karena hutan ini bukan cuma warisan, tapi masa depan.”

Gambar 1. Bapak Soleh, pengurus Kelompok Tani Hutan (KTH) Mencilestari

Pelatihan yang Menghubungkan Warisan dan Inovasi

Pelatihan Agroforestri Berbasis Warisan Budaya yang digelar oleh Universitas Padjadjaran bersama FOLU Norway Contribution (NC) 2&3 menjadi titik balik bagi warga. Materi yang disampaikan oleh para fasilitator seperti Kang Oji, Pak Firman, dan Pak Gilang diterima dengan antusias.

Pelatihan tersebut tidak berhenti pada teori. Ia menjadi jembatan yang menyatukan dua hal: ilmu akademik dan kebijaksanaan lokal. “Kata ‘agroforestri’ memang terasa asing bagi kami. Tapi waktu dijelaskan bahwa itu mirip sistem ‘jersi’, semua peserta langsung paham,” kata Soleh.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip knowledge management: menyimpan pengetahuan yang melekat di masyarakat dan mengubahnya menjadi praktik bersama. Dalam konteks Cihawuk, pengetahuan itu bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga tentang menanam kesadaran kolektif.

karena diatas sudah cukup banyak kutipan, bolehkah paragraf ini memberikan gambaran materi apa saja yang disampaikan oleh ketiga narsum?

Gambar 2. Kegiatan Peningkatan Awareness Agroforestri Berbasis Warisan Budaya Desa Cihawuk

Dari Pengetahuan ke Pemberdayaan

Kedua lembaga, KTH Mencilestari dan KPS Mencilestari, kini menjadi pengungkit utama kolaborasi masyarakat. Bagi Soleh, penguatan lembaga membuat masyarakat lebih percaya diri. “Sekarang masyarakat lebih mengenal KTH kami. Harapan kami, tidak hanya dikenal di tingkat desa, tapi juga bisa go international,” ujarnya.

Sementara bagi Solihin, kebersamaan adalah manfaat paling nyata. “Yang saya rasakan dari pelatihan ini bukan hanya ilmu, tapi silaturahmi antarwarga jadi kuat. Sekarang kami punya 13 KUPS yang aktif, dan kami mulai percaya diri untuk melangkah bersama.”

Pelatihan ini mengajarkan bahwa pengelolaan hutan bukan sekadar urusan teknis. Ia adalah soal keterhubungan manusia, alam, dan nilai budaya. Kearifan Sunda—silih asah, silih asih, silih asuh—hidup kembali dalam bentuk gotong royong ekologis. Hutan dijaga bukan karena aturan, tapi karena kesadaran bahwa kelestariannya adalah cermin kesejahteraan bersama.

Gambar 3. Bapak Solihin, pengurus Kelompok Tani Hutan (KTH) Mencil Lestari

Belajar dari Leluhur, Bergerak dengan Ilmu Baru

Dalam percakapan mereka, baik Soleh maupun Solihin berulang kali menyinggung pentingnya belajar dari masa lalu. “Kalau dulu orang tua kami tanam alpukat atau buah-buahan, sekarang banyak yang beralih ke sayur. Tapi prinsipnya sama: hutan harus dijaga,” kata Solihin.

Pendekatan ini membuka jalan bagi model agroforestri berbasis warisan budaya—sebuah upaya memadukan praktik leluhur dengan inovasi modern. Sistem “jersi” kini diterjemahkan ke dalam perencanaan multi-strata: pohon keras (damar, bambu, alpukat) di lapisan atas; tanaman kopi, pisang, atau jeruk di lapisan tengah; dan hortikultura di lapisan bawah. Hasilnya bukan hanya keseimbangan ekologis, tetapi juga potensi ekonomi baru bagi warga.

Generasi Z dan Pasar Digital Hutan

Baik Soleh maupun Solihin menyadari bahwa masa depan hutan ada di tangan generasi muda. “Kalau dulu orang tua hanya bisa produksi, sekarang anak muda bisa memasarkan secara digital. Penjualannya lebih simple dan menjanjikan,” ujar Solihin.

Gagasan ini mencerminkan perubahan pola pikir: hutan dan hasilnya tidak hanya dijaga, tapi juga dikembangkan secara kreatif. Melalui pemasaran digital—dari WhatsApp Catalog hingga marketplace—anak muda dapat mengubah kopi, madu hutan, atau alpukat menjadi produk bernilai tambah.
 “Kalau anak muda dilatih dan didampingi, hasilnya pasti lebih baik,” tambahnya.

Pelibatan generasi muda menjadi bukti bahwa konservasi bisa menjadi tren sosial dan ekonomi sekaligus. Di Cihawuk, green economy tidak lagi sekadar jargon; ia menjadi bagian dari strategi keluarga petani untuk bertahan dan berkembang.

Lestari dan Sejahtera

Bagi masyarakat Cihawuk, filosofi menjaga hutan tidak bisa dipisahkan dari menjaga manusia. “Percuma kalau hutannya hijau tapi masyarakatnya tidak sejahtera,” tegas Solihin.

Pandangan ini menegaskan bahwa konservasi sejati harus menyatukan dimensi ekologis dan sosial-ekonomi. Hutan yang lestari tanpa manusia yang sejahtera hanyalah ruang kosong tanpa makna.

Kedua tokoh ini juga menyoroti pentingnya pendampingan berkelanjutan. “Kalau bisa, programnya jangan berhenti di pelatihan. Kami perlu dukungan sampai tiga tahun ke depan—dari penanaman sampai pemasaran,” ujar Solihin.

Pernyataan itu sejalan dengan pendekatan knowledge management yang menekankan continuous learning—bahwa pembelajaran lapangan harus terus didokumentasikan dan diperbarui untuk menghasilkan pengetahuan baru yang hidup.

Pesan untuk Pemerintah dan Mitra

Masyarakat Cihawuk tak ingin berjalan sendiri. Mereka berharap ada sinergi lintas pihak—pemerintah, akademisi, lembaga donor, dan komunitas lokal—dalam mendukung keberlanjutan program.
 “Kami berterima kasih kepada Universitas Padjadjaran atas pelatihan ini. Tapi kami juga berharap dukungan dari pemerintah desa, kabupaten, dan pusat. Ini bukan urusan segelintir orang, ini urusan seluruh masyarakat Cihawuk,” ungkap Solihin.

Bagi Soleh, pelatihan ini menjadi contoh nyata bahwa pemberdayaan bukan konsep abstrak. “Dokumentasi, refleksi, dan berbagi pengalaman seperti ini penting. Supaya apa yang kami pelajari tidak hilang, bisa dipakai untuk masyarakat lain juga,” katanya.