Di lereng-lereng Desa Cikembang, tanah bukan sekadar ritme hidup. Pagi dimulai dari embun yang menempel di daun bawang, siang diisi langkah cepat ke bedengan, dan sore ditutup hitung-hitungan biaya pupuk yang kadang tak sejalan dengan harga pasar. Di sini, sayuran seperti kentang, wortel, kol, cabai, bawang daun, dan bawang-bawangan memang terasa “paling masuk akal”: cepat panen, cepat jadi uang. Tapi justru karena cepat itulah, risikonya pun datang lebih naik turun, biaya produksi tinggi, dan penutup vegetasi yang menipis perlahan membuat lereng makin rapuh.
Di titik itulah pendampingan agroforestri berbasis warisan budaya, yang akrab disebut kebon talun yang hadir bukan sebagai perintah “ganti total” cara bertani warga, melainkan sebagai ajakan menata ulang: menggabungkan komoditas cepat dengan tanaman tahunan yang memberi pijakan ekonomi jangka panjang, sambil memulihkan fungsi lindung lahan. Dalam semangat FOLU Net Sink 2030 yang melalui program FOLU Norway Contribution (NC) 2&3 yang dilaksanakan oleh Universitas Padjadjaran, suara perubahan terdengar dari: Abah Diman, Ketua KUPS LPHD Wanajaya dan Ibu Ai, petani perempuan anggota yang menanam, menghitung, dan berharap dengan cara yang sering tak terlihat.
Sayur yang Cepat, Risiko yang Cepat
Bertahun-tahun, sayur adalah jawaban. Namun bagi Abah Diman, jawaban itu mulai terasa berlapis: ada untungnya, tapi ada “pasang surut” yang menguras tenaga dan modal. Ia melihat bagaimana fluktuasi harga bisa mengubah hasil kerja berbulan-bulan menjadi hitung-hitungan yang menggantung. Dari sanalah muncul pertanyaan baru: kalau sayur tak selalu aman, apa yang bisa jadi penyangga?
Di sisi lain, Ibu Ai menggambarkan keseharian yang tampak “baik-baik saja” di level praktik: sayur ditanam seperti biasa, kopi ditumpangsarikan. “Enggak ada masalah apa-apa,” katanya pada awal cerita, sebuah kalimat yang sering keluar dari petani yang terbiasa menahan keluh. Tetapi ketika obrolan menyentuh urusan yang lebih besar dari sekadar menanam, soal akses dan kemampuan akar persoalan terlihat jelas: modal dan bibit.
“Kita kan nggak punya modal… kalau mau nanam harus beli bibit kopi,” ujar Ibu Ai.

Gambar 1. Abah Diman dan Pak Acu (Ketua dan anggota KUPS LPHD Wanajaya) di rumah bibit Living Lab Desa Cikembang
Ketika Bibit Menjadi Pintu Masuk
Bagi Abah Diman, kendala terbesar bukan pada niat, melainkan pada “pintu masuk” yang terkunci di awal: bibit. Keinginan beralih menata lahan ke agroforestri bisa berhenti hanya karena satu hal yang terdengar sederhana: bibitnya ada di mana?
“Dulu suka bingung: nyiar bibit ke mana… bibit kopi dapat dari mana harus beli,” kata Abah Diman.
Ia menyebut program penanaman kopi pernah terdengar, tetapi jalur bibit tidak jelas dan akses tidak tersedia. Ketika bibit harus dibeli, pilihan kembali ke soal klasik: ada kemauan, tapi modal terbatas. Di rumah tangga petani kecil, keterbatasan ini bukan sekadar “kurang uang” melainkan alasan mengapa banyak rencana berhenti sebelum dimulai.
Di sinilah pendampingan memecahkan simpul pertama: bibit hadir, jalur menjadi jelas, dan warga bisa bergerak. Abah Diman menekankan bahwa dukungan bibit yang ia kaitkan dengan peran Unpad dalam pendampingan membuat kebuntuan yang lama menahan langkah akhirnya terbuka. Ibu Ai pun mengamini dari sisi yang paling membumi: program seperti ini menolong warga kecil yang tak punya modal untuk “tetap bisa menanam”.
Kebon Talun: Menambah, Bukan Menghapus
Di Cikembang, kebon talun bukan istilah asing. Ia adalah cara lama yang sebenarnya menyimpan logika baru: menanam berlapis, menata pohon dan tanaman sela, menjaga tanah tetap “berisi” akar. Pendampingan agroforestri yang datang membawa semangat yang sama, tetapi dengan penekanan baru: kopi dan tanaman tahunan sebagai penyangga ekonomi jangka panjang, sementara sayur tetap berjalan untuk kebutuhan cepat.
Ibu Ai menyebut ia masih ingin menanam kentang. Dan di sanalah letak pelajaran penting: agroforestri yang diterima warga bukan yang memaksa mengganti segalanya, melainkan yang menambah opsi dengan masuk akal. Baginya, menanam campuran justru tidak masalah, asal lahan tetap menghasilkan dan masa depan pelan-pelan disiapkan.
“Kalau dicampur juga dengan tanaman-tanaman itu, nggak apa-apa… nantinya produknya makin banyak,” kata Ibu Ai.
Paket penanaman yang ia ceritakan menggambarkan arah diversifikasi: kopi, lalu tanaman buah/tahunan seperti jeruk dan jambu. “Yang baru jambu… sama jeruk. Itu baru,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa pembagian komoditas lain termasuk rimpang bersifat bertahap. Di balik cerita “baru dapat ini”, sebenarnya ada perubahan besar: lahan mulai ditata untuk dua kebutuhan sekaligus hari ini dan beberapa tahun ke depan.

Gambar 2. Ibu Ai dan anggota petani perempuan lainnya pada kegiatan Bimbingan Teknis Agroforestri Berbasis Warisan Budaya.
Belajar Menanam, Belajar Menata
Pendampingan tak berhenti pada “bibit datang”. Abah Diman menyebut ada pelatihan dan arahan cara tanam ada aturan jarak, cara menata, cara merawat. Ia menggambarkan proses itu sebagai pengetahuan praktis yang membuat warga tidak menanam “asal hidup”, tetapi menanam dengan arah.
“Sekarang ada pelatihan… nanamnya begini-begini ada aturannya,” kata Abah Diman.
Ibu Ai mengungkapkan bahwa ia tidak selalu diundang atau ikut dalam pelatihan yang diadakan. Akibatnya, informasi yang paling ia ingat lebih banyak tentang “tanaman yang diberikan” daripada aturan atau teknik menanam yang sebenarnya. Hal ini menandakan bahwa pendampingan bukan hanya soal mengajarkan teknologi, tetapi juga tentang siapa yang mendapatkan akses informasi, kapan, dan lewat jalur apa.
Sering kali, bibit bisa dibagikan dengan rapi, tetapi informasi yang dibutuhkan untuk merawat dan mengelola tanaman itu tidak selalu sampai ke semua orang. Ketika pengetahuan tidak merata, yang tertinggal bukan mereka yang paling sedikit bekerja, tetapi seringkali mereka yang tidak mengikuti pelatihan, bimbingan teknis, maupun pendampingan.
Menanam Harapan yang Akar-Nya Kuat
Target Abah Diman terdengar seperti strategi: mengurangi ketergantungan pada sayur yang fluktuatif, memperkuat komoditas jangka panjang lewat kopi dalam sistem agroforestri. Target Ibu Ai terdengar seperti harapan: program harus berlanjut, pendampingan jangan putus, dan warga kecil punya peluang untuk sukses. Bukan hanya menanam, tapi juga punya dukungan agar hasil bisa terserap pasar.
“Mudah-mudahan ke depan ada yang menampung, ada yang memodali, dan ada yang membeli hasilnya,” kata Ibu Ai.
Menariknya, harapan itu tidak berhenti pada ekonomi. Ibu Ai menautkan perubahan lahan dengan cerita lanskap: dulunya hutan, ditebang, lalu berubah jadi sayur karena itulah cara cepat dapat uang. Sekarang, ketika longsor dan banjir menjadi ancaman yang makin dekat, ia berharap ada tanaman berakar kuat yang bisa mengunci tanah dan mengembalikan hijau di lereng.
“Saya ingin gunung itu hijau lagi… kalau ada tanaman yang akarnya kuat itu bagus,” ujarnya.
Kalimat itu membuat agroforestri terasa bukan sekadar “paket budidaya”, melainkan upaya memulihkan hubungan warga dengan gunung dengan bahasa yang sederhana, tetapi tepat sasaran: akar kuat, tanah stabil, hidup lebih aman.

Gambar 3. Anggota LPHD Wanajaya mengikuti kegiatan Pendampingan Agroforestri Berbasis Warisan Budaya
Perubahan yang Paling Terasa, Meski Baru Dimulai
Karena penanaman masih tahap awal, hasil panen dan kenaikan penghasilan memang belum bisa dibaca sebagai “hasil akhir”. Abah Diman menyebut ini masih progres, belum masuk pemeliharaan penuh. Tetapi ada tiga perubahan awal yang sudah terlihat jelas.
Pertama, bottleneck bibit dan modal mulai terurai. Abah Diman tidak lagi berhenti di kebingungan mencari bibit. Ibu Ai menegaskan program membantu petani kecil yang sebelumnya tidak sanggup membeli bibit. Kedua, arah jangka panjang menjadi lebih terang: sayur tetap berjalan, tetapi kopi dan tanaman tahunan mulai menumbuhkan harapan pendapatan yang lebih stabil dalam 2–3 tahun ke depan, ketika tanaman buah mulai berproduksi dan kopi mulai kuat. Ketiga, kesadaran ekologis menguat: ancaman longsor/banjir menjadi alasan yang mudah dipahami untuk menanam tanaman tahunan, bukan karena jargon konservasi, melainkan karena pengalaman hidup.
“Program ini sangat membantu masyarakat… karena kita nggak punya modal,” kata Ibu Ai, menyimpulkan dengan cara yang paling jujur.

Gambar 4. Petakan lahan salah satu warga yang ditanam bibit kopi sebagai bagian dari penataan kebon talun.
Pesan untuk Pemerintah dan Mitra
Cerita Cikembang mengingatkan satu hal: perubahan besar sering dimulai dari hal yang paling praktis yaitu, bibit yang tersedia, pendampingan yang hadir, dan jalur informasi yang tidak putus. Agar kebon talun versi hari ini benar-benar menjadi penyangga ekonomi dan penjaga lanskap, dukungan tidak bisa berhenti di momentum tanam. Pendampingan pemeliharaan perlu berjalan sampai tanaman stabil, akses pelatihan perlu dipastikan merata, termasuk bagi perempuan dan yang tak kalah penting, skema hilir (penampung/pembeli) perlu disiapkan agar warga yakin bahwa menanam hari ini memang punya tempat menjual besok.
Di Cikembang, Abah Diman dan Ibu Ai sudah memulai penataan ulang itu. Yang mereka butuhkan sekarang bukan sekadar semangat baru, melainkan keberlanjutan: bibit yang hidup, pengetahuan yang sampai, pasar yang nyata, dan gunung yang pelan-pelan kembali hijau—dengan akar yang kuat, dan harapan yang ikut menguat.

