Survei Awal Desa Mekarmulya-Kubang

Jawa Barat, sebagai salah satu provinsi prioritas dalam rencana operasional FOLU Net Sink 2030, memiliki berbagai wilayah yang strategis untuk pengembangan agroforestri, termasuk di kawasan penyangga hutan dan area penggunaan lain (APL) seperti Desa Mekarmulya-Kubang. Desa Mekarmulya-Kubang, Kecamatan Kertasari, merupakan salah satu desa dengan potensi tinggi untuk pengembangan kegiatan agroforestri berbasis masyarakat. Desa ini memiliki topografi perbukitan, tutupan hutan yang mulai menurun, serta lahan masyarakat yang sebagian belum dikelola secara optimal.

Namun, hingga saat ini belum tersedia data dasar (baseline) yang lengkap dan terverifikasi mengenai kondisi biofisik, sosial-ekonomi, dan potensi serapan karbon di wilayah ini. Oleh karena itu, penyusunan laporan baseline data di Desa Mekarmulya-Kubang menjadi langkah awal yang penting dalam merancang, melaksanakan, dan memantau efektivitas kegiatan agroforestri sebagai bagian dari upaya mitigasi emisi GRK di tingkat lokal.

Wilayah Administrasi

Titik lokasi rencana pengembangan sekolah lapangan secara administrasi di Desa Mekarmulya, Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Secara visual titik lokasi rencana pengembangan sekolah lapang.

Berdasarkan pada gambar, interpretasi citra satelit, titik berada pada kawasan lahan terbangun/permukiman desa dengan sebaran permukiman linear mengikuti jalan utama Mekarmulya–Kubang. Tata guna lahan di sekelilingnya membentuk mosaik perdesaan: kebun campuran/agroforestri rakyat pada lereng perbukitan, petak sawah/ladang di dataran dan lembah yang lebih landai, serta tutupan vegetasi rapat (kebun kayu/hutan rakyat/semak) pada bukit-bukit sekitar; sehingga secara keseluruhan lanskap berfungsi dominan sebagai zona budidaya dan permukiman yang mendukung aktivitas sosial-pendidikan masyarakat desa.

Secara administrasi desa mekarmulaya dan desa kubang berbatasan secara langsung. Peta administrasi desa Mekarmulya dan peta administrasi Desa Kubang dapat dilihat pada berikut

Desa Mekarmulya berada di Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Batas desa ditunjukkan dengan garis merah. Secara kewilayahan, Mekarmulya berbatasan di timur–timur laut dengan Desa Simpang, di tenggara dengan Desa Kalibaru, di selatan–barat daya dengan Desa Kubang, sedangkan sisi barat hingga barat laut bersinggungan lintas kecamatan dengan Kecamatan Tanggeung dan pada ujung barat laut berdekatan dengan batas Kecamatan Pagelaran.

Berdasarkan gambar, Citra dasar memperlihatkan lanskap perdesaan berbukit dengan permukiman tersebar mengikuti jaringan jalan serta mosaik kebun campuran dan lahan budidaya di lereng-lereng. Hal ini menegaskan fungsi ruang desa yang dominan sebagai kawasan budidaya dan permukiman.

Desa Kubang terletak di Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Batas desa digambarkan dengan garis merah, memperlihatkan wilayah yang memanjang dari barat-laut ke tenggara. Secara kewilayahan, Desa Kubang berbatasan dengan Desa Mekarmulya di barat-laut, Desa Simpang di utara, Desa Kalibaru di timur-laut, dan Desa Girijaya di tenggara; sementara pada sisi barat dan selatan bersinggungan lintas kecamatan dengan Kecamatan Tanggeung, serta di barat-laut bertemu batas Kecamatan Pagelaran (batas kecamatan ditunjukkan garis kuning).

Berdasarkan gambar, citra dasar menampilkan lanskap perdesaan berbukit yang didominasi kebun campuran/agroforestri rakyat. Untuk area permukiman tersebar mengikuti jaringan jalan diikuti dengan tata guna lahan sawah/ladang di bagian lembah—mencerminkan fungsi ruang desa yang utama sebagai area budidaya dan permukiman.

Demografi

Desa Kubang (Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur). Berdasarkan publikasi Kecamatan Pasirkuda Dalam Angka 2024 (BPS), luas wilayah Desa Kubang mencapai 15,20 km². Pada tahun 2023 jumlah penduduk tercatat 4.170 jiwa (2.252 laki-laki dan 1.918 perempuan) dengan kepadatan 274,34 jiwa/km², persentase terhadap total penduduk kecamatan 11,60%, dan rasio jenis kelamin 117,41. Memasuki Semester I 2024, penduduk meningkat menjadi 4.357 jiwa (2.337 laki-laki dan 2.020 perempuan) dengan kepadatan 286,64 jiwa/km², pangsa penduduk 11,67%, serta rasio jenis kelamin 115,69. Secara umum, angka-angka tersebut menggambarkan desa perdesaan berpenduduk cukup padat di lanskap perbukitan Pasirkuda.

Desa Mekarmulya (Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur). Mengacu sumber yang sama, luas wilayah Desa Mekarmulya adalah 12,28 km². Pada 2023 jumlah penduduk 3.353 jiwa (1.766 laki-laki dan 1.587 perempuan) dengan kepadatan 273,05 jiwa/km², persentase penduduk kecamatan 9,33%, serta rasio jenis kelamin 111,28. Pada Semester I 2024, total penduduk naik menjadi 3.448 jiwa (1.810 laki-laki dan 1.638 perempuan) dengan kepadatan 280,78 jiwa/km², kontribusi 9,23% terhadap total penduduk kecamatan, dan rasio jenis kelamin 110,50. Secara ringkas, Mekarmulya mencerminkan desa budidaya-permukiman di kawasan perbukitan dengan kepadatan menengah untuk konteks perdesaan.

Tutupan Lahan

Tutupan lahan lokasi rencana pengembangan sekolah lapang di MTR Al-Ittihadiyah Desa Mekarmulya-Kubang dilihat secara langsung melalui peta ortomosaik. Peta orthomosaic merupakan hasil penggabungan citra udara beresolusi tinggi yang diperoleh melalui pemotretan menggunakan wahana drone atau pesawat nirawak. Peta ini mampu menyajikan informasi spasial dengan detail yang sangat baik, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam analisis tutupan lahan di suatu wilayah. Melalui orthomosaic, perbedaan karakteristik penutup lahan seperti permukiman, lahan pertanian, vegetasi rapat, maupun lahan terbuka dapat teridentifikasi secara visual dengan jelas. Keunggulan lain dari peta ini adalah ketelitian geometrik dan radiometriknya yang relatif tinggi, sehingga mampu memberikan gambaran nyata kondisi lahan di lapangan (Colomina & Molina, 2014).

peta ortomozaik yang ditampilkan merupakan hasil interpretasi spasial lingkungan MTs Al-Ittihadiyah yang berlokasi di Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur. Peta ini disajikan pada skala 1:1.500 sehingga mampu memberikan representasi detail mengenai tata guna lahan di sekitar sekolah, termasuk area permukiman penduduk, lahan pertanian terasering, ruang vegetasi, badan air berupa kolam, serta jaringan jalan desa yang menghubungkan kawasan tersebut.

Titik merah yang teridentifikasi pada peta menunjukkan lokasi rencana pengembangan Sekolah Lapang. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan ketersediaan lahan yang relatif terbuka, kedekatan dengan pusat kegiatan sekolah, serta aksesibilitas yang baik terhadap infrastruktur jalan dan pemanfaatan lahan produktif di sekitarnya. Dengan demikian, area tersebut dinilai strategis untuk mendukung kegiatan pembelajaran berbasis praktik, khususnya yang berorientasi pada pemanfaatan sumber daya lokal, pendidikan lingkungan, dan pengembangan keterampilan siswa. Secara fungsional, peta ortomozaik ini berperan sebagai instrumen analisis spasial yang mendukung proses perencanaan pengembangan sekolah. Selain itu, peta ini juga memberikan dasar ilmiah dalam mengintegrasikan aspek pendidikan dengan potensi biofisik dan sosial-ekonomi masyarakat sekitar, sehingga pengembangan Sekolah Lapang dapat diarahkan secara lebih terukur, berkelanjutan, dan kontekstual dengan kondisi lokal.

Secara struktur vegetasi, visualisasi tutupan lahan di area rencana pengembangan sekolah lapang di Desa Mekarmulya – Kubang dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Dari sisi pendidikan, struktur vegetasi yang kompleks ini sangat relevan untuk dijadikan Sekolah Lapang berbasis agroforestri, karena siswa dapat belajar langsung mengenai interaksi antarstrata tanaman, prinsip konservasi tanah dan air, serta diversifikasi hasil. Melalui pendekatan praktik lapangan, sekolah mampu memperkenalkan pengetahuan ekologis yang aplikatif, sekaligus membangun kesadaran pentingnya pengelolaan lahan berkelanjutan.

Secara sosial ekonomi, pola agroforestri multistrata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Kehadiran tanaman kayu keras menyediakan potensi ekonomi jangka panjang, sementara tanaman buah dan perkebunan memberikan manfaat jangka menengah dan pendek yang dapat dipanen secara berkelanjutan. Kondisi ini menciptakan sistem pendapatan berlapis bagi masyarakat, yang mampu meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga sekaligus memperkuat hubungan sosial melalui praktik gotong royong dalam pemeliharaan lahan.

Dengan demikian, representasi stratifikasi vegetasi dalam gambar ini tidak hanya menjadi potret ekologi kawasan, tetapi juga menegaskan potensi integrasi ilmu, ekologi, dan ekonomi melalui pengembangan Sekolah Lapang berbasis agroforestri yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Faktor Fisik Lingkungan

Faktor fisik lingkungan merupakan komponen utama yang memengaruhi karakteristik ekosistem dan produktivitas lahan. Kondisi biofisik seperti ketinggian dari permukaan laut, jenis tanah, kelembapan udara, kelembapan tanah, suhu udara, suhu tanah, dan curah hujan saling berinteraksi dalam menentukan dinamika ekologi suatu wilayah. Ketinggian lokasi berhubungan erat dengan variasi iklim mikro, di mana peningkatan elevasi umumnya menurunkan suhu dan memengaruhi distribusi vegetasi (Barry & Blanken, 2016). Kelembapan udara dan kelembapan tanah menjadi faktor penting dalam siklus hidrologi karena menentukan ketersediaan air bagi tanaman dan organisme lain (Rodriguez-Iturbe & Porporato, 2004).

Jenis Tanah

Tanah merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat penting dalam menentukan kesesuaian lahan untuk pertanian, kehutanan, maupun konservasi. Karakteristik tanah, baik sifat fisik, kimia, maupun biologisnya, memengaruhi kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan tanaman serta menjaga keseimbangan ekosistem. Setiap jenis tanah memiliki ciri khas tersendiri, baik dari segi tekstur, kesuburan, maupun tingkat keasaman, sehingga pemahaman terhadap jenis tanah suatu wilayah menjadi dasar penting dalam pengelolaan lahan yang berkelanjutan.

Ketinggian Lokasi

Ketinggian suatu lokasi merupakan salah satu parameter penting dalam kajian lingkungan dan tata guna lahan. Secara umum, ketinggian diukur dari permukaan laut dan dinyatakan dalam satuan meter di atas permukaan laut (mdpl). Informasi mengenai ketinggian diperlukan karena memengaruhi berbagai faktor lingkungan, seperti suhu udara, kelembaban udara, kelembaban tanah, serta jenis vegetasi yang dapat tumbuh di suatu wilayah. Semakin tinggi suatu lokasi dari permukaan laut, umumnya suhu udara akan semakin rendah, sedangkan kelembaban udara cenderung meningkat. Kondisi ini memberikan implikasi langsung terhadap aktivitas pertanian, kehutanan, serta perencanaan konservasi lingkungan.

Kemiringan Lereng

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, informasi mengenai kemiringan lereng menjadi dasar penting dalam menentukan strategi konservasi tanah dan air. Lahan dengan lereng curam hingga sangat curam, misalnya, memiliki risiko tinggi terhadap kehilangan lapisan tanah produktif jika tidak dikelola dengan teknik konservasi yang tepat. Sebaliknya, lahan dengan lereng datar hingga landai relatif lebih sesuai untuk budidaya pertanian intensif, namun tetap membutuhkan

pengelolaan agar tidak terjadi penurunan kualitas tanah. Oleh karena itu, analisis kemiringan lereng tidak hanya membantu dalam pengambilan keputusan pemanfaatan lahan, tetapi juga mendukung upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi potensi bencana lingkungan.

Kelembaban Udara

Data kelembapan udara pada periode 2020–2024 dalam analisis ini menggunakan parameter Relative Humidity at 2 Meters (%) dari dataset NASA POWER. Relative Humidity at 2 Meters (%) merupakan parameter iklim yang menggambarkan jumlah uap air yang terkandung di udara pada menahan uap air pada suhu tertentu. Data ini tersedia dari basis data NASA Prediction Of Worldwide Energy Resources (POWER), yang banyak digunakan untuk kajian iklim, pertanian, dan energi terbarukan karena menyediakan data meteorologi global dengan resolusi spasial dan temporal yang baik (Stackhouse et al., 2018).

Kelembaban relatif merupakan faktor lingkungan yang sangat penting dalam berbagai aspek ekologi dan pertanian. Tingkat kelembaban memengaruhi proses fisiologis tanaman, termasuk transpirasi, fotosintesis, serta ketersediaan air tanah untuk akar. Selain itu, kelembaban udara berperan dalam siklus hidrologi, keseimbangan energi permukaan, serta kenyamanan termal manusia dan hewan (Campbell & Norman, 2012). Dalam konteks agroekosistem, kelembaban yang stabil cenderung mendukung pertumbuhan tanaman, sedangkan fluktuasi kelembaban yang terlalu tinggi atau rendah dapat berdampak negatif pada produktivitas.

Kelembaban Tanah

Data kelembapan tanah pada periode 2020–2024 dalam analisis ini menggunakan parameter Profile Soil Moisture dari dataset NASA POWER. Profile Soil Moisture didefinisikan sebagai kandungan air tanah pada kedalaman profil hingga sekitar 1 meter, yang merepresentasikan ketersediaan air di seluruh lapisan tanah tempat akar tanaman dapat tumbuh

Suhu Udara

Data suhu udara pada periode 2020–2024 menggunakan parameter Earth Skin Temperature (EST) dari dataset NASA POWER. Penggunaan Earth Skin Temperature (EST) sebagai parameter suhu udara pada penelitian ini didasarkan pada fakta bahwa EST merupakan suhu permukaan bumi yang diukur oleh sensor satelit dengan resolusi temporal dan spasial yang konsisten. EST menggambarkan energi panas yang tersimpan dan dipancarkan oleh permukaan bumi, sehingga dapat merepresentasikan kondisi iklim mikro dan makro lebih akurat dibandingkan hanya suhu udara konvensional di permukaan (Wan, 2014). Kajian ini penting dilakukan karena perubahan suhu permukaan bumi sangat erat kaitannya dengan fenomena global seperti perubahan iklim, dinamika vegetasi, serta keseimbangan energi bumi–atmosfer (Mildrexler et al., 2018). Selain itu, data EST dari NASA POWER memberikan konsistensi jangka panjang yang bermanfaat dalam memantau tren iklim regional hingga global.

KESIMPULAN

Berdasarkan Hasil Pembahasan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan pada laporan ini yaitu sebagai berikut

  1. Status aktual lahan rencana pengembangan sekolah lapang yaitu berbentuk kebun campuran yang saat ini, secara status kepemilikan lahan, dikelola dibawah Yayasan Haji Mohamad Djunaedi. Secara adminstrasi, area pengembangan sekolah lapang terdapat di Desa Mekarmulya.
  2. Terdapat praktek warisan budaya berbasis agroforestri di area pengembangan sekolah lapang. Praktek agroforestri yang sudah berjalan yaitu dalam bentuk pengelolaan lahan berbasis kebun dan sawah untuk di lahan milik sedangkan untuk dilahan hutan pengelolaan hutan berbasis agroforestri antara kombinasi tanaman mahoni dan kapolaga.
  3. Estimasi cadangan karbon awal area pengembangan sekolah lapang Desa Mekarmulya yaitu sebesar 1,74 ton/ha.
  4. Pemangku kepentingan yang diidentifikasi yaitu Pemerintah Desa, LMDH, kelompok tani (Gapoktan/Poktan), serta tokoh masyarakat dan tokoh agama.
  5. Penanggung jawab lokus cianjur yaitu Yayasan Haji Mohamad

 

Untuk laporan kegiatan lengkap dapat di unduh pada link berikut :

https://go.unpad.ac.id/kegiatanfolunc2025