
Harmonisasi Budaya dan Alam: Langkah Strategis Desa Kubang dan Mekarmulya Menuju Indonesia’s FOLU Net Sink 2030
1. Visi Besar: Menjawab Tantangan Perubahan Iklim Global Program Revitalisasi Agroforestri Berbasis Warisan Budaya di Desa Kubang dan Mekarmulya, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, merupakan bagian integral dari upaya nasional dalam mencapai target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Target ambisius ini menempatkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya sebagai penyerap karbon bersih pada tahun 2030. Untuk mencapainya, diperlukan penguatan tata kelola hutan dan lahan melalui pendekatan lokal yang strategis agar upaya rehabilitasi tidak hanya efektif secara teknis tetapi juga berkelanjutan secara sosial. Program ini memposisikan agroforestri sebagai instrumen kunci untuk memperkuat ketahanan ekosistem, menjaga keseimbangan karbon, dan meneguhkan peran masyarakat sebagai penjaga praktik lahan yang adaptif.
Secara konseptual, agroforestri yang diterapkan bukan sekadar penanaman pohon biasa, melainkan sistem pengelolaan lahan berkelanjutan yang mengintegrasikan pohon dengan aktivitas pertanian guna menghasilkan manfaat ekologis yang luas, seperti konservasi tanah dan air, peningkatan keanekaragaman hayati, serta perbaikan mikroklimat. Dari sisi sosial-ekonomi, sistem ini bertujuan meningkatkan produktivitas lahan, diversifikasi pendapatan petani, dan penguatan ketahanan pangan lokal. Integrasi pendekatan ini dengan nilai-nilai budaya lokal dipandang krusial untuk memperkuat identitas komunitas dan meningkatkan rasa memiliki (sense of ownership) masyarakat terhadap program.
2. Metodologi: Prinsip Partisipasi dan Pembelajaran Bersama (Co-Learning) Pendampingan di Desa Kubang dan Mekarmulya dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan co-learning yang responsif terhadap konteks lokal. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam pengelolaan lahan, sementara fasilitator berperan sebagai penghubung pengetahuan yang menyelaraskan praktik ilmiah dengan kearifan lokal. Melalui musyawarah desa, diskusi kelompok terarah (FGD), dan kunjungan lapangan, setiap tahapan dirancang untuk membuka ruang dialog yang setara guna memetakan kebutuhan dan menetapkan prioritas bersama.
Komponen co-learning dioperasionalkan melalui siklus pembelajaran terbuka: mulai dari pemaparan konsep, praktik lapangan, hingga refleksi dan penyesuaian rancangan. Pengetahuan tradisional masyarakat mengenai kalender tanam, preferensi jenis tanaman, serta tata aturan lokal dihimpun dan dipadukan dengan kaidah konservasi tanah dan air modern. Dengan demikian, praktik agroforestri ini tidak dipaksakan dari luar, melainkan “ditumbuhkan” dari kebiasaan setempat yang telah terbukti adaptif, sehingga peluang replikasi oleh masyarakat luas menjadi lebih tinggi.
3. Implementasi Tahap Awal: Sosialisasi dan Penerimaan Masyarakat (Agustus 2025) Kegiatan di lapangan pada periode Juli hingga September 2025 diawali dengan koordinasi intensif bersama pemerintah desa dan Kelompok Tani (KPS) untuk menjamin legalitas dan penyelarasan rencana kerja. Pada tanggal 8 Agustus 2025, dilaksanakan forum sosialisasi yang bertujuan untuk menyamakan persepsi mengenai tujuan, tahapan, dan keluaran program. Materi yang disampaikan mencakup pengantar konsep agroforestri, hubungannya dengan konservasi lahan, serta kontribusi nyata bagi target nasional FOLU Net Sink 2030. Masyarakat di kedua desa menyambut baik rencana program ini dan menyampaikan harapan agar implementasi fisik dapat segera dilaksanakan untuk menjawab tantangan lingkungan di wilayah mereka.
4. Survei Awal Terpadu: Pemetaan Berbasis Drone dan Inventarisasi Budaya Memasuki fase teknis pada 25–31 Agustus 2025, tim melakukan survei awal terpadu yang komprehensif. Pemetaan dilakukan menggunakan teknologi drone untuk mengidentifikasi tutupan lahan secara detail serta melakukan perhitungan estimasi cadangan karbon di area rencana kegiatan. Secara paralel, tim melaksanakan inventarisasi praktik warisan budaya melalui wawancara mengenai kebiasaan tanam warga, pemanfaatan tanaman tradisional, serta struktur kelembagaan kelompok tani lokal.
Hasil survei awal menunjukkan fakta lapangan yang menantang: lahan di lokasi rencana kegiatan saat ini masih minim ditanami tanaman keras dan didominasi oleh komoditas sayuran. Kondisi ini mencerminkan dominasi pertanian semusim yang intensif namun rentan terhadap degradasi lahan jika tidak dikombinasikan dengan sistem pohon yang kuat. Temuan ini memperkuat urgensi transisi menuju sistem agroforestri yang lebih seimbang untuk memulihkan fungsi hidrologis dan meningkatkan stok karbon di wilayah Cianjur tersebut.
5. Tata Kelola Data dan Monitoring Adaptif Untuk menjamin keberlanjutan, program ini menerapkan sistem monitoring dua-mingguan melalui siklus Compile–Review–Finalize. Seluruh aktivitas harian direkam dalam logbook oleh fasilitator, mencakup detail lokasi, pihak terlibat, hingga temuan penting dan keluhan masyarakat. Data-data ini kemudian direkapitulasi secara berkala untuk mengevaluasi progres dibandingkan rencana awal dan melakukan perbaikan desain intervensi secara berkelanjutan (continuous improvement). Mekanisme manajemen adaptif ini memastikan bahwa setiap kendala teknis atau sosial di lapangan dapat segera dideteksi dan dicarikan solusinya secara partisipatif.
6. Kesimpulan dan Rencana Masa Depan Berdasarkan hasil pendampingan periode Juli–September 2025, Desa Kubang dan Mekarmulya menunjukkan kesiapan sosial dan peluang teknis yang besar untuk menerapkan agroforestri berbasis budaya. Fondasi koordinasi dan data dasar sosial-ekologis telah terbentuk dengan kokoh. Fokus kegiatan selanjutnya akan diarahkan pada penyusunan laporan hasil survei awal serta persiapan teknis pembuatan demplot (kebun percontohan) yang akan menjadi laboratorium lapangan bagi petani untuk mempraktikkan langsung teknik agroforestri multistrata. Dengan sinergi multipihak, inisiatif ini diharapkan mampu memberikan manfaat ekologis dan ekonomi yang nyata serta berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

