Di lereng Cihawuk, musim kopi tidak hanya ditandai oleh buah yang memerah. Ia juga ditandai oleh langkah petani yang membawa hasil panen, oleh perhitungan kebutuhan keluarga, oleh tawaran tengkulak, oleh cuaca yang tidak lagi mudah ditebak, dan oleh kelompok yang pelan-pelan mencoba mengubah arah kopi dari sekadar bahan mentah menjadi produk yang lebih bernilai.
Selama bertahun-tahun, kopi Cihawuk banyak bergerak melalui jalur yang sudah dikenal petani: dijual sebagai ceri, cepat menjadi uang, dan segera dipakai untuk memenuhi kebutuhan. Jalur itu praktis, tetapi tidak selalu memberi posisi kuat bagi petani. Di saat kebutuhan mendesak, bahkan ketika kopi baru berbunga, sebagian petani bisa saja sudah meminjam kepada tengkulak. Ketika panen tiba, pilihan menjual pun menjadi tidak sepenuhnya bebas. Dalam situasi seperti itu, masalah kopi bukan hanya soal produksi, melainkan soal akses modal, pasar, kepercayaan, dan posisi tawar.
Di tengah persoalan itu, Pak Sholihin, Ketua KPS Mencil Lestari, melihat perubahan yang mulai tumbuh. Ia tidak menggambarkannya sebagai keberhasilan besar yang sudah selesai. Ia lebih banyak berbicara tentang proses: dari manual ke mesin, dari ceri ke green bean, dari gabah ke roast bean, dari kopi curah ke kemasan, dari tidak paham varian kopi menjadi mulai mengenal full wash, natural, wine, honey, dan semi wash.
Ceri, Tengkulak, dan Putaran Uang Cepat
Sebelum pengolahan kopi berkembang di KPS, menjual ceri adalah pilihan yang paling umum. Bagi petani, ceri memberi putaran uang cepat. Kopi dipetik, dijual, lalu kebutuhan harian bisa segera dipenuhi. Dalam logika rumah tangga petani, kecepatan ini penting. Tidak semua keluarga punya ruang untuk menunggu proses pascapanen yang lebih panjang.
Namun, kecepatan sering datang bersama keterbatasan nilai tambah. Ketika kopi dijual sebagai ceri, sebagian besar proses berikutnya—pengolahan, pengeringan, sortir, roasting, pengemasan, hingga pemasaran—berpindah ke pihak lain. Nilai yang lebih besar juga ikut bergerak keluar. Petani tetap bekerja di awal rantai, tetapi belum sepenuhnya menikmati hasil dari hilir.
Pak Sholihin memahami situasi itu. Ia menyebut bahwa tengkulak masih memegang peran besar karena mampu menjawab kebutuhan paling mendesak petani. KPS belum selalu bisa memfasilitasi kebutuhan tersebut. Karena itu, perubahan rantai nilai tidak cukup dilakukan dengan mengimbau petani agar menjual ke kelompok. KPS perlu membangun kemampuan menyerap kopi, memberi harga lebih baik, menjaga kepercayaan, dan menyediakan layanan yang membuat petani merasa aman.
Di sinilah perubahan di Cihawuk menjadi kompleks. Ia bukan sekadar mengganti pembeli, tetapi membangun ulang sistem yang selama ini membuat petani bergantung pada jalur lama.
Dari Full Wash sampai Kopi Serbuk
Salah satu perubahan yang paling terasa bagi Pak Sholihin adalah pengetahuan teknis. Dulu, kopi lebih sering dipahami sebagai ceri yang dijual. Sekarang, kelompok mulai mengenal berbagai proses: full wash, semi wash, natural, honey, hingga wine. Nama-nama itu bukan hanya istilah baru. Ia membuka pemahaman bahwa rasa, kualitas, harga, dan pasar kopi sangat dipengaruhi oleh cara pengolahan.
Dengan adanya mesin, proses yang dulu berat menjadi lebih ringan. Pak Sholihin mengingat bahwa dulu proses pulper untuk full wash bahkan bisa dilakukan dengan cara diinjak dalam karung. Kini, dengan mesin, pekerjaan itu lebih terbantu. Perubahan teknis ini memberi kelompok peluang untuk naik satu tahap: tidak hanya menjual ceri, tetapi juga memproses menjadi green bean, roast bean, hingga kopi bubuk dalam kemasan.
“Kalau dulu cuma menjual ceri, sekarang dengan adanya alat ada beberapa macam yang bisa dirasakan,” ujarnya.
Kalimat ini menjadi benang merah perubahan. Cihawuk tidak lagi hanya melihat kopi sebagai hasil panen, tetapi sebagai produk berlapis. Setiap lapisan memiliki nilai, tetapi juga membutuhkan keterampilan. Green bean memerlukan pengolahan dan pengeringan yang baik. Roast bean membutuhkan teknik sangrai. Kopi bubuk membutuhkan konsistensi rasa, ukuran giling, kemasan, label, dan cara menjual.
Perubahan itu belum besar, tetapi arahnya sudah berbeda. Dari ceri menuju kemasan, KPS sedang belajar memegang lebih banyak mata rantai.
Memberdayakan, Bukan Sekadar Membeli
Pak Sholihin menegaskan bahwa alat yang ada di KPS bukan hanya untuk dirinya atau pengurus. Ia berharap masyarakat paham bahwa keberadaan alat dimaksudkan untuk membantu kelancaran Cihawuk, bukan hanya KPS atau KUPS tertentu. Baginya, nyawa dari kerja kelompok adalah pemberdayaan masyarakat.
Salah satu contoh yang ia sebut adalah harga beli. Ketika pengumpul membeli kopi dengan harga tertentu, KPS berusaha memberi harga sedikit lebih tinggi. Tujuannya bukan semata mencari keuntungan besar, tetapi agar petani kopi ikut merasakan manfaat. Dalam logika Pak Sholihin, jika kuantitas kopi yang masuk banyak, kelompok tidak perlu mengambil margin terlalu besar dari setiap kilogram. Sedikit margin, jika volumenya cukup, tetap bisa membantu kas kelompok.
Dari jasa alat pun mulai ada pemikiran kelembagaan. Biaya roasting, pulper, atau huller dapat dicatat dan dimasukkan sebagai kas. Kas itu penting untuk menjaga keberlanjutan alat, terutama jika kelak ada kerusakan. Di sini terlihat bahwa KPS mulai bergerak bukan hanya sebagai penerima alat, melainkan sebagai pengelola aset bersama.
Tetapi jalan ini membutuhkan kedisiplinan. Data petani harus muncul. Volume produksi per musim perlu dicatat. Kopi yang masuk ke kelompok perlu terdokumentasi. Jika kelak berhubungan dengan pajak, legalitas, atau perluasan pasar, data menjadi dasar penting. Pesan Pak Sholihin kepada KUPS lain pun mengarah ke sana: data petani dan produksi harus ada.
Pasar yang Masih Harus Dicari
Meski perubahan sudah terasa, Pak Sholihin tidak menutup mata bahwa tantangan terbesar berikutnya adalah pasar. Produk mulai bisa dibuat, kemasan mulai diupayakan, tetapi pertanyaan penting masih terbuka: hasil karya kelompok harus dibawa ke mana?
Ia menyebut perlunya pendampingan hasil. Bukan hanya pendampingan produksi, tetapi juga pendampingan untuk mencari konsumen, memahami media sosial, menggunakan Instagram, YouTube, atau kanal digital lain, dan memperkenalkan kopi khas Cihawuk. Sebagai orang kampung, ia mengakui belum sepenuhnya memahami cara kerja pemasaran digital. Justru karena itu, ia berharap ada arahan lanjutan.
Catatan kritis ini penting. Banyak program pemberdayaan berhenti ketika kelompok sudah bisa memproduksi. Padahal, produksi tanpa pasar dapat menjadi beban baru. Kelompok bekerja lebih banyak, tetapi produk belum tentu terserap. Mesin berputar, tetapi kas belum tentu stabil. Kemasan dibuat, tetapi konsumen belum tentu datang. Karena itu, pendampingan model bisnis harus bergerak lebih jauh: dari pelatihan menuju akses pasar, dari kemasan menuju strategi penjualan, dari produk menuju konsumen.
Bagi KPS Mencil Lestari, tantangan lain adalah belum semua kopi masuk ke kelompok. Sebagian masih keluar melalui jalur lain. Ini wajar dalam proses transisi, tetapi perlu dibaca sebagai pekerjaan kelembagaan. KPS harus membuktikan bahwa menjual melalui kelompok memberi manfaat yang jelas, transparan, dan berkelanjutan.
Cuaca yang Berubah, Musim yang Tidak Lagi Pasti
Di Cihawuk, kopi juga dibaca melalui musim. Pak Sholihin menyebut bahwa panen raya umumnya berlangsung sekitar bulan keenam, meskipun di wilayah dengan ketinggian berbeda waktu panen dapat bergeser. Cihawuk berada di ketinggian lebih dari 1.600 meter, sehingga ritme panennya tidak selalu sama dengan wilayah di bawahnya.
Namun, ia juga mencatat bahwa cuaca sekarang tidak lagi menentu. Dulu, ketika kemarau berlangsung lima sampai enam bulan, kopi bisa berbunga serempak. Sekarang, dalam beberapa bulan setelah panen, tunas dan bakal bunga sudah bisa muncul lagi. Kopi ada hampir setiap bulan, meskipun tidak banyak. Perubahan ini menunjukkan bahwa pengelolaan kopi tidak hanya menghadapi tantangan pasar, tetapi juga ketidakpastian iklim.
Dalam konteks agroforestri, pembacaan musim seperti ini penting. Petani membutuhkan pengetahuan yang menggabungkan pengalaman lokal dengan informasi teknis baru. Mereka tahu tanda-tanda di kebun, tetapi juga perlu dukungan untuk memahami perubahan iklim mikro, perawatan tanaman, pengaturan naungan, air, dan pola panen. Jika kopi ingin menjadi sumber ekonomi jangka panjang, maka kebun harus dibaca bukan hanya sebagai tempat produksi, tetapi sebagai sistem yang perlu dirawat.
Kopi Cihawuk Harus Punya Wajah Sendiri
Pak Sholihin menyimpan keinginan agar kopi Cihawuk memiliki kekhasan. Ia tahu bahwa kopi reguler bisa saja masuk pasar umum atau ekspor. Tetapi ia juga ingin memunculkan identitas daerah: kopi yang bukan hanya berasal dari Cihawuk, tetapi membawa cerita Cihawuk.
Keinginan ini penting dalam pengembangan rantai nilai. Produk lokal akan lebih kuat jika memiliki identitas: asal, proses, rasa, cerita petani, lanskap, dan nilai sosial-ekologis. Cihawuk punya bahan itu. Ada kopi di lereng tinggi. Ada kelompok yang mulai mengolah. Ada mesin. Ada pengalaman manual yang panjang. Ada perubahan dari ceri ke kemasan. Ada cita-cita agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Bagi mitra, kampus, pemerintah, pembeli, dan pendamping, pesan dari Pak Sholihin jelas. Pendampingan perlu berlanjut pada akses pasar, branding, digital marketing, pencatatan produksi, permodalan, dan tata kelola kelompok. KPS juga perlu didukung agar mampu menjadi simpul yang dipercaya petani, bukan hanya tempat alat berada. Jika petani melihat manfaat yang nyata, kopi akan lebih mudah masuk ke kelompok. Jika kelompok mampu mengolah dan menjual dengan baik, nilai tambah dapat lebih banyak tinggal di Cihawuk.
Perubahan dari ceri ke kemasan bukan perubahan kecil. Ia menggeser posisi petani dari awal rantai menuju bagian yang lebih menentukan nilai. Ia menuntut alat, pengetahuan, pasar, data, dan kepercayaan. Di lereng Cihawuk, jalan itu baru mulai dibuka. Tidak semua kopi sudah masuk. Tidak semua pasar sudah ditemukan. Tidak semua sistem sudah rapi. Tetapi arah baru sudah terlihat.
Dari buah merah yang dulu cepat dijual sebagai ceri, kini muncul kemungkinan lain: green bean, roast bean, kopi bubuk, kemasan, dan cerita asal-usul yang lebih kuat. Jika jalan ini terus dirawat, kopi Cihawuk tidak hanya akan dikenal dari tempat tumbuhnya, tetapi dari keberanian kelompoknya menata ulang nilai—agar yang selama ini keluar sebagai bahan mentah dapat kembali sebagai martabat, kas kelompok, dan harapan yang lebih adil bagi petani di tanahnya sendiri.

