Minculak: Kopi Cihawuk yang Dibangun dari Peurih-Peuheurna

Di Cihawuk, kopi tidak hanya datang sebagai aroma. Ia datang bersama udara dingin, jalan menanjak, suara mesin yang kini mulai akrab, dan ingatan tentang hari-hari ketika semua masih dikerjakan dengan tangan. Di sela kebun dan rumah warga, kopi pernah menempuh jalan panjang sebelum menjadi minuman: dipetik, dikeringkan, ditumbuk, dibawa ke tempat sangrai yang jauh, lalu kembali lagi ke kampung dengan cerita lelah yang tidak selalu terlihat oleh pembeli.

Bagi sebagian orang, kopi mungkin hanya soal rasa. Bagi warga yang mengolahnya dari awal, kopi adalah urusan tenaga, waktu, biaya, keberanian, dan kesabaran. Sebelum alat datang, prosesnya tidak sederhana. Ada kopi yang harus ditutu—ditumbuk secara manual—dengan alat seadanya. Ada biji yang harus dibawa jauh ke Tarumajaya untuk disangrai. Kadang sore berangkat, malam belum tentu selesai, lalu harus kembali lagi ke Cihawuk. Di balik satu kemasan kopi, ada jarak yang ditempuh, ada badan yang lelah, dan ada tekad kelompok yang sedang belajar berdiri.

Cerita itu hidup dalam suara Pak Sugandi, Bendahara KPS Mencil Lestari, yang oleh warga biasa dipanggil Uwa Mas. Ia tidak bercerita dengan bahasa yang dibuat-buat. Ia memulai dari syukur, lalu pelan-pelan membuka ingatan tentang masa sebelum pendampingan, sebelum mesin, sebelum kelompok mulai percaya bahwa kopi Cihawuk bisa diolah lebih jauh di kampungnya sendiri.

Dari Nutu ke Mesin yang Membuka Jalan

Sebelum ada bantuan alat dan pendampingan, pengolahan kopi di KPS Mencil Lestari berjalan dengan cara yang sangat sederhana. Banyak hal dilakukan mandiri, dengan inspirasi sendiri, dan dengan kemampuan seadanya. Pak Sugandi menyebut masa itu sebagai masa yang “luar biasa” sulitnya.

Ia mengingat bagaimana dirinya bersama ketua kelompok harus memproses kopi secara manual. Setelah kopi kering, biji ditumbuk sampai menjadi beras kopi atau green bean. Setelah itu, kopi harus dibawa ke Tarumajaya untuk disangrai. Proses itu bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menunjukkan posisi kelompok yang masih terbatas dalam rantai nilai kopi. Mereka punya kopi, punya semangat, punya anggota, tetapi belum punya alat yang cukup untuk mengolah hasilnya sendiri secara lebih efisien.

Di titik itulah perubahan mulai terasa ketika mesin pulper, huller, sortasi, dan roasting hadir. Bagi Pak Sugandi, momen itu bukan sekadar bantuan teknis. Ia menyebutnya sebagai salah satu pengalaman paling indah. Ada rasa bahagia yang sulit dibayangkan ketika sesuatu yang dulu terasa jauh akhirnya berdiri di hadapan kelompok.

Mesin-mesin itu mengubah ritme kerja. Kopi yang dulu harus ditumbuk manual kini bisa diproses lebih cepat. Proses yang dulu bergantung pada tempat lain kini mulai bisa dilakukan di Cihawuk. Pekerjaan yang dulu banyak menguras tenaga kini mulai memiliki jalan baru. Bagi kelompok yang sedang belajar dari nol, alat bukan hanya benda; ia menjadi tanda bahwa usaha mereka dianggap mungkin.

“Yang Tadinya Terbelakang, Sekarang Mulai Terbuka”

Pak Sugandi tidak menempatkan perubahan hanya pada mesin. Baginya, hal yang juga berubah adalah wawasan. Ia mengaku sebelumnya belum mengenal FOLU, agroforestri, maupun pendekatan usaha kopi secara lebih luas. Semua itu mulai dikenal setelah beberapa kali pertemuan, diskusi, dan pendampingan.

“Diri kami yang tadinya terbelakang, sekarang mulai terbuka,” katanya.

Kalimat itu penting karena menunjukkan perubahan yang lebih dalam daripada peningkatan alat produksi. Sebelum pendampingan, kelompok bekerja dengan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman sendiri. Setelah proses berjalan, mereka mulai mengenal cara lain membaca kebun, kopi, dan usaha. Agroforestri tidak lagi hanya terdengar sebagai istilah dari luar, tetapi mulai diterjemahkan dalam arahan kepada anggota kelompok: bagaimana berkebun, bagaimana merawat tanaman, bagaimana melihat kopi sebagai bagian dari pengelolaan lahan yang lebih panjang.

Pada saat yang sama, pendampingan model bisnis juga membuka ruang belajar baru. Sebelumnya, Pak Sugandi mengaku belum pernah mengenal pembicaraan tentang model bisnis. Sekarang, meskipun masih bertahap, ia mulai memahami bahwa usaha kopi bukan hanya soal menjual hasil panen. Ada biaya produksi, tenaga kerja, ongkos proses, pencatatan, harga pokok, jasa alat, dan rencana untuk memperluas usaha dari hulu ke hilir.

Perubahan ini belum selesai. Tetapi ia sudah memindahkan kelompok dari sekadar “mengolah karena harus” menjadi “mengolah sambil belajar menghitung”.

Minculak, Keinginan yang Lebih

Di tengah proses itu, nama produk menjadi bagian dari cerita. Produk kopi mereka disebut Minculak. Menurut Pak Sugandi, nama itu lahir dari ungkapan orang dahulu: kahayang anu leuwih—keinginan yang lebih. Nama itu bukan sekadar merek. Ia menyimpan ingatan tentang perjuangan dari nol, tentang rasa pesimis yang pernah datang dari sekitar, dan tentang usaha membuktikan bahwa kelompok kecil di Cihawuk bisa memiliki produk sendiri.

Dulu, ketika kelompok mulai membangun usaha, tidak semua orang langsung percaya. Ada yang meragukan, ada yang merasa usaha itu tidak akan menjadi apa-apa. Tetapi Pak Sugandi dan pengurus lain terus berjalan. Ia menyebut perjuangan itu dilakukan “dari hati ke hati” sampai “berair mata”. Dari situ, Minculak bukan hanya nama di kemasan. Ia menjadi tanda bahwa kopi Cihawuk sedang mencari tempatnya sendiri.

Perubahan mulai terlihat dari cara petani mengirim bahan kopi. Jika dulu arahnya banyak ke tengkulak atau jalur lain, sekarang sebagian mulai masuk ke KPS. Pak Sugandi menyebut adanya peningkatan dari jumlah kecil seperti satu, dua, atau lima kilogram, menjadi 60 sampai 70 kilogram pada beberapa kesempatan. Angka-angka ini tidak perlu dibaca sebagai klaim besar, tetapi sebagai tanda awal: kepercayaan mulai tumbuh, perlahan, dari transaksi kecil menjadi hubungan yang lebih teratur.

Kopi, Kas Kelompok, dan Belajar Menghitung Tenaga

Salah satu pembelajaran penting dari perubahan ini adalah kesadaran bahwa usaha kelompok harus punya dasar perhitungan. Pak Sugandi menyadari bahwa tenaga kerja perlu dihitung. Ongkos proses perlu dicatat. Jasa alat perlu disimpan untuk kebutuhan kelompok, termasuk kemungkinan perawatan atau perbaikan alat di kemudian hari.

Di sinilah KPS mulai bergerak dari kerja gotong royong murni menuju kelembagaan ekonomi yang lebih tertib. Mesin memang membantu mempercepat proses, tetapi mesin juga membawa tanggung jawab baru: siapa yang menggunakan, berapa biayanya, bagaimana mencatat pemasukan, bagaimana menyimpan kas, dan bagaimana memastikan alat tidak hanya bermanfaat sesaat.

Pak Sugandi menyebut bahwa semua mesin terpakai, meskipun kapasitasnya belum optimal. Beberapa anggota menggunakan, ada pula orang luar yang memakai dalam jumlah kecil. Namun pemanfaatannya masih perlu diperluas. Ini menjadi catatan penting: bantuan alat tidak otomatis menciptakan usaha yang matang. Ia perlu ditopang oleh manajemen, promosi, pasar, pencatatan, dan pembiasaan anggota.

Dengan kata lain, mesin membuka jalan. Tetapi jalan itu masih harus dirawat.

Catatan Jujur dari Ruang yang Belum Selesai

Perubahan di KPS Mencil Lestari memang terasa, tetapi belum semua hal berjalan sempurna. Kapasitas pemanfaatan alat masih bertahap. Pengguna dari luar masih sedikit. Pencatatan biaya produksi dan tenaga kerja baru mulai dipelajari. Produk Minculak masih perlu diperkenalkan lebih luas. Kelompok juga masih harus membangun kebiasaan baru agar kopi tidak hanya diproses ketika ada kebutuhan cepat, tetapi menjadi usaha yang direncanakan.

Catatan kritis ini justru memperkuat cerita. Karena perubahan masyarakat tidak pernah berlangsung seperti tombol yang langsung menyala. Kelompok yang dulu memproses kopi secara manual kini sedang belajar menjadi pengelola usaha. Itu membutuhkan waktu, pendampingan, pasar, dan pembagian peran yang lebih rapi. Tanpa itu, alat bisa bekerja, tetapi usaha belum tentu tumbuh maksimal.

Pak Sugandi sendiri memahami bahwa proses ini baru permulaan. Ia melihat perlunya terus belajar, memperbaiki cara kerja, dan membuka peluang agar produk dari Cihawuk semakin dikenal.

Uwah Gingsir, Jangan Mudah Menyerah

Ketika ditanya pelajaran terpenting, Pak Sugandi menyebut kebersamaan. Ia memakai ungkapan uwah gingsir—jangan mudah menyerah. Ungkapan ini menggambarkan karakter perubahan yang sedang dijalani KPS Mencil Lestari. Mereka tidak tiba-tiba kuat. Mereka pernah manual, pernah jauh-jauh menyangrai, pernah mengolah dengan alat seadanya, pernah belum dikenal. Tetapi dari pengalaman pahit-getir itu, mereka membangun keyakinan bahwa kopi Cihawuk punya jalan.

Harapannya sederhana namun besar: Minculak dikenal, kelompok semakin kuat, usaha kopi berkembang dari hulu ke hilir, dan manfaatnya kembali kepada masyarakat. Bagi mitra, pendamping, kampus, pemerintah, dan pembeli, pesan dari Uwa Mas cukup jelas. Pendampingan berikutnya perlu memperkuat pemasaran, pencatatan biaya, perawatan alat, kapasitas produksi, kemasan, serta jaringan konsumen. Kelompok tidak hanya membutuhkan alat, tetapi juga ekosistem agar alat itu menghasilkan perubahan yang lebih panjang.

Di Cihawuk, kopi Minculak lahir bukan dari ruang pamer yang rapi. Ia lahir dari peurih-peuheurna—pahit-getirnya kerja manual, perjalanan jauh, dan keberanian mencoba. Dari tangan Uwa Mas dan orang-orang yang tidak mudah gingsir, masa depan kopi rakyat sedang disusun perlahan: dari biji yang dulu ditumbuk seadanya, menuju produk yang ingin berdiri dengan nama, rasa, dan martabatnya sendiri.