Latar Belakang
Indonesia memiliki komitmen kuat dalam penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (Forestry and Other Land Use/FOLU). Komitmen ini dituangkan dalam kebijakan FOLU Net Sink 2030, yang menargetkan agar sektor FOLU menjadi penyerap karbon bersih (net sink) pada tahun 2030. Untuk mendukung target ini, diperlukan intervensi langsung di tingkat tapak melalui strategi seperti reboisasi, rehabilitasi lahan, dan pengelolaan hutan secara berkelanjutan.
Salah satu pendekatan implementatif yang relevan dalam konteks rehabilitasi lahan dan peningkatan penyerapan karbon adalah agroforestri, yaitu sistem penggunaan lahan yang mengombinasikan tanaman pertanian dengan pohon-pohonan dalam satu kesatuan ekosistem. Agroforestri dinilai efektif karena selain meningkatkan tutupan lahan dan serapan karbon, juga memberikan nilai ekonomi langsung kepada masyarakat sekitar.
Jawa Barat, sebagai salah satu provinsi prioritas dalam rencana operasional FOLU Net Sink 2030, memiliki berbagai wilayah yang strategis untuk pengembangan agroforestri, termasuk di kawasan penyangga hutan dan area penggunaan lain (APL) seperti Desa Sukapura. Desa Sukapura, Kecamatan Kertasari, merupakan salah satu desa dengan potensi tinggi untuk pengembangan kegiatan agroforestri berbasis masyarakat. Desa ini memiliki topografi perbukitan, tutupan hutan yang mulai menurun, serta lahan masyarakat yang sebagian belum dikelola secara optimal.
Namun, hingga saat ini belum tersedia data dasar (baseline) yang lengkap dan terverifikasi mengenai kondisi biofisik, sosial-ekonomi, dan potensi serapan karbon di wilayah ini. Oleh karena itu, penyusunan laporan baseline data di Desa Sukapura menjadi langkah awal yang penting dalam merancang, melaksanakan, dan memantau efektivitas kegiatan agroforestri sebagai bagian dari upaya mitigasi emisi GRK di tingkat lokal.
Metode Pengumpulan Data
Terdapat 3 metode awal dalam pengumpulan data yaitu :
Metode Pemetaan Kawasan
Pada tahapan kegiatan pemetaan kawasan menggunakan teknik pengindraan jauh, teknik ini dilakukan menggunakan alat pesawat nirawak/ unmanned aerial vehicle (UAV) atau drone. Teknik penginderaan jauh memiliki keunggulan dalam mendapatkan informasi spasial-temporal untuk mendapatkan sifat biofisik hutan, untuk menilai biomassa dan stok karbon (Ota, et.al, 2017). Pengumpulan data menggunakan platform berbasis UAV memiliki fleksibilitas operasional yang tinggi dalam hal biaya, waktu, tempat dan pengulangan dibandingkan dengan platform berbasis satelit dan operasi fotogrametri berawak tradisional (Dhruva et al., 2024). Platform UAV dapat menangkap gambar resolusi tinggi yang dapat digunakan secara efektif dan efisien untuk menghasilkan model medan digital (DTM), model permukaan digital (DSM), dan gambar orto-mosaik (Dhruva et al., 2024).
Metode Estimasi Simpanan Karbon
Survei awal ini bertujuan memperkirakan stok karbon atas-permukaan (AGB → C) pada lahan agroforestri sederhana seluas 116 ha dengan pendekatan non-destruktif, sehingga seluruh pengukuran dilakukan tanpa menebang atau merusak vegetasi. Rancangan mengikuti pedoman IPCC dan ICRAF/World Agroforestry: variabel utama yang dicatat ialah DBH untuk semua individu ≥ 5 cm, tinggi pohon pada subset representatif per kelas diameter untuk menekan bisa alometrik, identitas jenis (untuk penarikan wood density, ρ), serta dokumentasi posisi dan kondisi tegakan.
Metode yang digunakan untuk mengetahui potensi simpanan karbon dilakukan dengan metode non-destruktif untuk tegakan pohon dan metode destruktif untuk tumbuhan bawah. Metode non-destruktif yaitu jika jenis tanaman yang diukur sudah diketahui rumus allometriknya. Sedangkan metode destruktif dilakukan oleh peneliti untuk tujuan pengembangan rumus allometrik, terutama pada jenis-jenis pohon yang mempunyai pola percabangan spesifik yang belum diketahui persamaan allometriknya secara umum.
Metode Pengumpulan Data Sosial Ekonomi
Pengumpulan data sosial ekonomi dilakukan dengan dua metode yaitu metode wawancara kualitatif dan metode observasi. Metode wawancara kualitatif adalah teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yang dilakukan melalui percakapan mendalam antara peneliti dan informan untuk menggali pandangan, pengalaman, serta makna yang diberikan individu terhadap suatu fenomena sosial. Wawancara ini bersifat terbuka dan fleksibel, memungkinkan peneliti untuk menyesuaikan pertanyaan berdasarkan respons informan sehingga data yang diperoleh lebih kaya dan mendalam. Wawancara kualitatif umumnya digunakan ketika peneliti ingin memahami realitas sosial dari perspektif partisipan, bukan sekadar mengukur variabel atau mencari generalisasi. Jenis wawancara ini dapat dilakukan secara terstruktur, semi-terstruktur, atau tidak terstruktur, tergantung pada tujuan penelitian dan kedalaman informasi yang ingin digali.

Contoh Hasil Foto Udara UAV
Wilayah Administrasi
Desa Sukapura merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara administratif, Desa Sukapura memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:
- Sebelah Utara: berbatasan langsung dengan Desa Resmi Tinggal yang masih termasuk dalam Kecamatan Kertasari.
- Sebelah Timur: berbatasan dengan wilayah Kecamatan Pacet.
- Sebelah Selatan: berbatasan dengan Desa Cibeureum.
- Sebelah Barat: berbatasan dengan Desa Sukapura dan sebagian wilayah Kecamatan Pacet.

Peta Administratif Desa Sukapura
Secara umum, wilayah Desa Sukapura didominasi oleh lahan pertanian, perkebunan, dan kawasan hutan yang berada di lereng pegunungan. Kondisi geografis ini menjadikan desa memiliki peran penting dalam sektor pertanian, khususnya sayuran dataran tinggi, serta menjadi bagian dari daerah tangkapan air di hulu Sungai Citarum.
Demografi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, luas wilayah Desa Sukapura, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, adalah 596,7 ha atau setara dengan 5,97 km². Kondisi topografi wilayah desa ini didominasi oleh perbukitan. Jumlah penduduk tercatat sebanyak 6.799 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2.911 KK. Dengan demikian, kepadatan penduduk Desa Sukapura mencapai sekitar 1.544 jiwa/km², yang menunjukkan tingkat kepadatan cukup tinggi dibandingkan wilayah pedesaan pada umumnya. Secara ringkas informasi demografi disajikan pada tabel dibawah ini
|
No |
Uraian |
Satuan |
Jumlah |
Keterangan |
|
1. |
Jumlah Penduduk |
org |
9217 |
|
|
2. |
– Laki-Laki |
org |
4725 |
Termasuk anak-anak |
|
3. |
– Perempuan |
org |
4492 |
|
|
4. |
Luas Wilayah |
km² |
5,97 |
|
|
5. |
Kepadatan Penduduk |
jiwa/km² |
1.544 |
|
Tutupan Lahan
Tutupan lahan di KPS Reksawana Desa Sukapura dilihat secara langsung melalui peta ortomosaik. Peta orthomosaic merupakan hasil penggabungan citra udara beresolusi tinggi yang diperoleh melalui pemotretan menggunakan wahana drone atau pesawat nirawak. Peta ini mampu menyajikan informasi spasial dengan detail yang sangat baik, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam analisis tutupan lahan di suatu wilayah. Melalui orthomosaic, perbedaan karakteristik penutup lahan seperti permukiman, lahan pertanian, vegetasi rapat, maupun lahan terbuka dapat teridentifikasi secara visual dengan jelas. Keunggulan lain dari peta ini adalah ketelitian geometrik dan radiometriknya yang relatif tinggi, sehingga mampu memberikan gambaran nyata kondisi lahan di lapangan (Colomina & Molina, 2014). peta ortomozaik area KPS Reksawana dapat dilihat pada gambar dibawah ini.


