Di Cihawuk, kopi bukan hanya tanaman yang tumbuh di lereng. Ia hadir dalam obrolan warga, dalam pekerjaan keluarga, dalam aktivitas kelompok, dan dalam cara anak muda mulai melihat desanya sendiri. Di kampung-kampung seperti ini, bertani bukan hal yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Anak muda melihat orang tua pergi ke kebun, ikut membantu ketika dibutuhkan, atau bekerja di lahan orang lain untuk menambah penghasilan.
Namun, dekat dengan pertanian tidak selalu berarti merasa memiliki masa depan di dalamnya. Bagi sebagian anak muda, kopi masih sering terlihat sebagai urusan orang tua: ditanam, dipetik, dijemur, lalu dijual. Padahal, di balik biji kopi yang dikenal banyak orang, ada ruang lain yang bisa dimasuki generasi muda—ruang pengolahan, kemasan, pemasaran, cerita produk, dan usaha kecil yang lebih dekat dengan minat mereka.
Di ruang itulah Oca, pemudi Cihawuk yang terhubung dengan kegiatan KPS Mencil Lestari, mulai menemukan ketertarikannya. Ia tidak mengikuti semua kegiatan sejak awal. Ia juga belum terlalu akrab dengan istilah seperti agroforestri atau kebun talun. Tetapi ketika ada pendampingan model bisnis dan praktik pengolahan kulit kopi menjadi cascara serta olahan kue, Oca ikut terlibat. Dari sana, ia melihat bahwa kopi tidak berhenti pada bijinya saja.
“Saya Baru Tahu Kulit Kopi Bisa Jadi Kue”
Hal yang paling membekas bagi Oca bukan istilah besar atau penjelasan panjang. Yang paling ia ingat justru praktik yang sederhana: membuat kue dari kulit kopi.
“Yang paling menarik itu cara buat kue. Saya baru tahu kalau buat kue itu bisa dari kulit kopi,” begitu kira-kira pengalaman yang ia ceritakan.
Kalimat itu terdengar polos, tetapi justru di sana letak kekuatannya. Pengetahuan baru sering kali masuk bukan lewat teori yang berat, melainkan lewat sesuatu yang bisa disentuh, dicium aromanya, diaduk, dicicipi, lalu dibayangkan menjadi produk. Kulit kopi yang sebelumnya mudah dianggap sisa, ternyata bisa dicuci, dikeringkan, disangrai, diblender, lalu diolah menjadi bahan minuman atau kue.
Dalam bahasa Sunda, ada ungkapan teu kapiceun—tidak terbuang. Ungkapan ini terasa tepat untuk menggambarkan pengalaman Oca. Dari kulit kopi yang semula tidak banyak dilirik, ia belajar bahwa bagian yang dianggap sisa pun masih punya nilai. Biji kopi dapat menjadi minuman. Kulit kopinya dapat menjadi cascara. Cascara dapat menjadi teh, dapat pula masuk ke olahan kue. Dari satu buah kopi, muncul beberapa kemungkinan.
Bagi kelompok kopi rakyat, cara pandang seperti ini penting. Nilai tambah tidak selalu dimulai dari alat besar atau pasar jauh. Ia bisa dimulai dari keberanian melihat ulang apa yang selama ini ada di depan mata.
Kopi Tidak Ada yang Terbuang
Pengetahuan yang paling Oca ingat adalah cara mengolah kopi agar tidak ada bagian yang sia-sia. Ia menyebut bahwa biji kopi dapat diolah menjadi kopi, sementara kulit kopinya bisa menjadi teh cascara dan bahan kue. Ia bahkan masih mengingat alur sederhananya: kulit kopi dicuci lebih dulu, dikeringkan beberapa hari, lalu disangrai. Setelah itu, kulit kopi dapat diblender menjadi bubuk dan dicampurkan ke dalam adonan.
Untuk membuat kue, Oca menyebut bahan yang dekat dengan dapur rumah: telur, gula, tepung, margarin, dan bubuk cascara. Tidak ada kesan rumit dalam penjelasannya. Justru karena sederhana, praktik itu terasa mungkin dilakukan kembali. Ia bukan hanya menyimak, tetapi ikut aktif dalam proses membuat kue.
Di titik ini, perubahan yang terjadi bukan sekadar penambahan keterampilan teknis. Yang berubah adalah cara melihat kopi. Sebelumnya, kopi mungkin lebih mudah dipahami sebagai tanaman atau hasil panen. Setelah kegiatan itu, kopi mulai terlihat sebagai bahan yang bisa diolah lebih kreatif. Ada unsur rasa ingin tahu, ada percobaan, ada peluang usaha, dan ada ruang bagi anak muda untuk masuk.
Ketika ditanya apakah olahan kulit kopi punya nilai ekonomi, Oca menjawab dengan yakin: bisa. Apalagi sekarang sudah ada jalur penjualan daring. Jawaban itu memperlihatkan cara pandang khas anak muda. Mereka tidak hanya memikirkan produk sebagai barang yang dijual di sekitar kampung, tetapi juga membayangkan kemungkinan pasar yang lebih luas melalui media online.
Dari Membantu ke Ikut Belajar
Sebelum mengenal praktik pengolahan cascara, keterlibatan anak muda dalam pertanian di Cihawuk lebih banyak berada di posisi membantu. Oca menyebut bahwa anak muda di kampung-kampung memang sering bertani atau bekerja membantu, tetapi perannya belum selalu masuk ke bagian pengelolaan usaha.
Oca sendiri tidak membesar-besarkan perannya. Dalam beberapa urusan administrasi atau pekerjaan menggunakan laptop, ia mengaku lebih sering membantu ketika dibutuhkan. Jika ada yang sibuk, ia bisa menggantikan. Ia merasa belum terlalu banyak terlibat, tetapi masih sanggup jika diberi kesempatan.
Yang menarik, Oca punya latar belakang pendidikan komputer. Karena itu, ia merasa ada pengetahuan yang bisa dikembangkan lagi. Baginya, ikut membantu kelompok bukan hanya soal tenaga, tetapi juga kesempatan memakai kembali kemampuan yang pernah dipelajari. Di sini terlihat bahwa ruang anak muda dalam kelompok tidak harus selalu sama dengan ruang orang tua. Jika orang tua kuat di kebun dan pengalaman bertani, anak muda bisa masuk melalui pencatatan, desain, kemasan, promosi, dokumentasi, dan pemasaran.
Oca sendiri mengaku lebih tertarik pada kemasan kopi. Ia tahu kemampuannya belum profesional. Ia juga tidak ingin terdengar berlebihan. Tetapi ia menyukai bagian itu. Kalimatnya sederhana: masih belajar. Justru dari sana terlihat bahwa potensi anak muda sering kali dimulai dari minat kecil yang perlu ditemani, bukan langsung dibebani target besar.
Kemasan, Online, dan Bahasa Baru Anak Muda
Bagi Oca, kemasan bukan sekadar pembungkus. Di tangan anak muda, kemasan bisa menjadi cara membuat produk kampung terlihat lebih rapi, lebih dikenal, dan lebih percaya diri ketika masuk pasar. Kopi, cascara, atau kue berbahan kulit kopi membutuhkan cerita. Produk tidak hanya perlu enak, tetapi juga perlu dikenali: dari mana asalnya, siapa yang membuatnya, apa keunikannya, dan mengapa ia berbeda.
Di sinilah anak muda punya ruang yang khas. Mereka lebih dekat dengan gawai, media sosial, foto produk, desain sederhana, dan cara bercerita secara visual. Oca belum menyebut dirinya ahli. Tetapi ketertarikannya pada kemasan memberi sinyal bahwa regenerasi kelompok tidak selalu harus dimulai dari ajakan besar. Kadang cukup dengan membuka satu ruang kecil: siapa yang mau belajar desain label, siapa yang mau memotret produk, siapa yang mau mencoba jualan online, siapa yang mau mencatat pesanan.
Dalam konteks KPS Mencil Lestari, ruang-ruang kecil seperti ini bisa menjadi pintu masuk. Anak muda tidak perlu selalu diminta langsung memahami seluruh konsep FOLU, agroforestri, atau perhutanan sosial. Mereka bisa mulai dari hal yang dekat: kulit kopi yang diolah, kemasan yang diperbaiki, produk yang difoto, atau cerita desa yang ditulis lebih menarik.
Dari sana, pelan-pelan, mereka bisa memahami gambaran yang lebih besar: bahwa kopi bukan hanya komoditas, tetapi bagian dari cara desa menjaga lahan, mengembangkan ekonomi, dan merawat hutan.
Ruang Bertanya yang Perlu Dibiasakan
Oca melihat bahwa anak muda sebenarnya bisa dan mau terlibat. Namun, ada satu hal yang sering menjadi penghalang: rasa gengsi untuk bertanya. Dalam percakapan sehari-hari, anak muda kadang merasa sungkan jika harus bertanya terlalu banyak. Takut terlihat tidak tahu. Takut dianggap belum paham. Padahal, ruang bertanya justru menjadi awal dari proses belajar.
Karena itu, pendampingan untuk pemuda perlu dibuat lebih cair. Tidak selalu harus formal. Bisa melalui praktik langsung, obrolan kelompok kecil, sesi belajar kemasan, percobaan resep, atau pelatihan pemasaran online. Yang penting, anak muda merasa boleh bertanya, boleh mencoba, boleh salah, dan boleh belajar dari awal.
Oca menyebut bahwa untuk menarik pemuda, kuncinya adalah kerja sama dan sharing. Kata itu terasa sederhana, tetapi penting. Anak muda tidak cukup hanya diberi instruksi. Mereka perlu diajak berbagi, mendengar, mencoba, dan melihat bahwa perannya dihargai. Jika pendekatannya terlalu kaku, mereka mudah menjauh. Tetapi jika ruangnya terbuka, kegiatan kopi bisa menjadi tempat belajar bersama.
Dari Tidak Tahu Menjadi Tahu
Ketika diminta menggambarkan kegiatan yang ia ikuti dalam satu kalimat, Oca menjawab bahwa kegiatan itu memberi edukasi kepada masyarakat, terutama anak muda seperti dirinya, “dari asalnya tidak tahu menjadi tahu.” Ia menutupnya dengan ungkapan yang sangat Sunda: “bermanfaat pisan.”
Kata pisan memberi rasa yang tidak bisa sepenuhnya diganti oleh kata “sangat”. Ada kedekatan, ada pengakuan, ada pengalaman langsung. Bagi Oca, manfaat itu bukan sesuatu yang abstrak. Ia kini tahu bahwa kulit kopi dapat diolah. Ia tahu bahwa cascara bisa menjadi teh atau bahan kue. Ia tahu bahwa produk seperti itu bisa punya nilai ekonomi. Ia juga mulai melihat bahwa kemasan dan penjualan online dapat menjadi ruang anak muda.
Harapannya sederhana: kegiatan terus maju, kelompok kompak, saling mengerti, dan banyak mengobrol agar tidak terjadi salah paham. Jika ada yang tidak paham, tanyakan. Jangan langsung mengambil kesimpulan sendiri. Dalam kalimat itu, Oca sebenarnya sedang menunjukkan satu prinsip penting dalam pemberdayaan: pengetahuan teknis perlu berjalan bersama komunikasi yang baik.
Bagi mitra, pendamping, pemerintah desa, kampus, dan KPS Mencil Lestari, pesan dari Oca cukup jelas. Anak muda jangan hanya ditempatkan sebagai pelengkap kegiatan. Mereka perlu diberi ruang yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Pengolahan cascara, desain kemasan, promosi digital, pencatatan sederhana, fotografi produk, dan pengembangan usaha turunan kopi dapat menjadi jalur masuk yang lebih hidup.
Di Cihawuk, masa depan kopi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menanam di lereng, tetapi juga oleh siapa yang mampu melihat nilai pada bagian yang selama ini dianggap sisa. Dari kulit kopi yang dicuci, dijemur, disangrai, lalu diolah menjadi kue, Oca menemukan pintu kecil menuju peran baru. Dan dari pintu kecil itu, anak muda Cihawuk bisa mulai membaca kopi dengan cara yang berbeda: bukan hanya sebagai hasil kebun, tetapi sebagai peluang yang teu kapiceun—tidak terbuang, selama pengetahuan, kepercayaan, dan kesempatan terus dirawat bersama.

