Ngamumule Talun: Menghidupkan Warisan Kebun Campuran Priangan

Di dataran tinggi Kertasari, lanskap tidak pernah sepenuhnya diam. Kabut bergerak di atas kebun, jalan desa mengikuti kontur lereng, dan tanah menyimpan lapisan-lapisan cerita yang tidak semuanya tertulis. Di satu sisi, orang melihat sayuran, kopi, jalan kecil, permukiman, dan petak-petak lahan yang dikerjakan dari musim ke musim. Di sisi lain, ada sejarah yang lebih panjang: hulu Citarum, jejak permukiman lama, pembukaan hutan, perkebunan kolonial, dan ingatan tentang cara orang Sunda bertahan hidup dari kebun campuran.

Di tengah bentang seperti itu, pembicaraan tentang agroforestri tidak bisa hanya dimulai dari istilah teknis. Ia harus kembali pada bahasa yang lebih tua, bahasa yang pernah hidup dalam praktik sehari-hari masyarakat Sunda: talun. Kata itu kini sering tersisa sebagai nama tempat. Banyak kampung bernama Talun, tetapi tidak semua orang masih tahu apa arti talun sebagai sistem kebun. Nama bertahan, tetapi praktik dan maknanya perlahan memudar.

Bagi Yudi Hamzah, praktisi dan peneliti kesejarahan, talun bukan sekadar istilah lokal yang indah untuk dihidupkan kembali. Talun adalah pintu untuk membaca hubungan panjang antara manusia, tanah, pohon, pangan, air, dan ekonomi keluarga. Dari percakapan dengannya, kebun talun muncul bukan sebagai nostalgia romantis, melainkan sebagai pengetahuan lokal yang pernah bekerja: memberi makan, memberi tabungan, menjaga keragaman tanaman, dan menahan manusia agar tidak sepenuhnya memutus hubungan dengan tanah.

Nama yang Tersisa, Makna yang Hampir Hilang

“Talun itu kalau sekarang banyak jadi toponimi tempat,” kata Yudi. Di Rancaekek ada Talun, di Sumedang ada Talun, dan di banyak wilayah Sunda nama itu berulang. Tetapi pengulangan nama tidak otomatis berarti pengulangan pengetahuan. Banyak orang mengenal Talun sebagai nama kampung, bukan sebagai sistem kebun.

Yudi menelusuri kata itu melalui kamus bahasa Sunda dan naskah-naskah lama. Menurutnya, talun berasal dari bahasa Sunda kuno, merujuk pada kebun yang diisi pohon-pohon berusia panjang. Bukan tanaman sekali panen, melainkan tanaman yang memberi hasil berulang: mangga, kopi, alpukat, nangka, dan buah-buahan lain. Di bawah dan di antaranya, tumbuh tanaman musiman seperti bayam, kangkung, selada, kacang-kacangan, roay atau kacang koro, serta tanaman kecil lain.

Dalam struktur itu, talun tidak mengenal satu jenis tanaman sebagai penguasa tunggal. Ia adalah kebun campuran. Pohon besar memberi keteduhan, tanaman buah memberi hasil musiman, tanaman pangan pendek memberi kebutuhan harian, dan seluruh komposisinya membentuk ritme panen yang tidak putus. Dari cara menanam seperti ini, masyarakat tidak hanya mengejar satu komoditas, tetapi menyusun kehidupan.

Itulah perbedaan mendasar antara talun dan monokultur. Talun tidak hanya menjawab pertanyaan “apa yang laku dijual”, tetapi juga “apa yang membuat keluarga bisa bertahan”. Ia tidak memisahkan ekonomi dari ekologi. Ia tidak memisahkan pangan harian dari tabungan jangka panjang. Di dalamnya, kebun menjadi ruang yang bekerja dalam banyak waktu sekaligus: hari ini, musim depan, dan tahun-tahun yang akan datang.

Kertasari dalam Ingatan Panjang Priangan

Yudi menempatkan Kertasari dalam sejarah lanskap Priangan yang jauh lebih tua daripada pembukaan kebun modern. Ia menyebut perjalanan Bujangga Manik, seorang pangeran dari Kerajaan Sunda, yang dalam naskah kuno menyinggahi wilayah hulu Citarum. Dari sana, Kertasari dibaca bukan sebagai ruang kosong yang baru ditemukan oleh program pembangunan, melainkan sebagai wilayah yang telah lama dikenal, dihuni, dan diberi makna.

Menurut Yudi, daerah ini sudah dikenal sekitar abad ke-14 atau ke-15. Namun pembukaan lahan secara masif terjadi jauh setelah itu, terutama sejak abad ke-19, ketika sistem tanam paksa memperluas perubahan lanskap. Hutan dibabat, lahan dibuka, dan tanaman bernilai ekonomi kolonial seperti kopi, teh, kina, dan indigo masuk sebagai komoditas utama. Dalam peta-peta lama, nama-nama seperti Kertasari, Maruyung, Pacet, dan Cihawuk telah muncul sebagai tanda bahwa wilayah ini memiliki sejarah permukiman dan pengelolaan lahan yang panjang.

Di titik inilah kebun talun perlu dibaca dengan hati-hati. Ia bukan sekadar sistem lokal yang berdiri di luar sejarah besar. Ia justru hidup, berubah, dan terdesak oleh perubahan politik-ekonomi. Ketika Preanger Stelsel dan kemudian Cultuurstelsel mendorong kewajiban tanam komoditas tertentu, pola kebun campuran ikut tergeser. Rakyat mengikuti perintah melalui struktur kekuasaan tradisional. Hutan yang semula rimba belantara perlahan berubah menjadi lahan produksi yang lebih terarah pada kebutuhan pasar kolonial.

Perubahan itu membawa hasil ekonomi bagi pihak tertentu, tetapi meninggalkan pertanyaan ekologis yang panjang. Apa yang hilang ketika kebun campuran berubah menjadi monokultur? Apa yang terjadi ketika tanah tidak lagi diberi jeda? Apa akibatnya ketika keragaman tanaman digantikan oleh satu komoditas dominan?

Ketika Kebun Campuran Menjadi Monokultur

Yudi menyebut kerugian ekologis sebagai risiko yang paling berat. Kerugian ekonomi mungkin bisa dihitung, tetapi kerugian ekologis sering kali muncul dalam bentuk yang lebih sulit ditebus: longsor, banjir bandang, hilangnya daya dukung tanah, dan melemahnya fungsi lanskap sebagai penyangga air. Di wilayah seperti Kertasari, yang berada dalam lanskap hulu dan memiliki hubungan penting dengan tata air, perubahan pola tanam bukan urusan kecil.

Monokultur mengubah logika kebun. Tanah terus dipakai, tanaman terus diganti, jeda hilang, dan keragaman menyempit. Dalam sistem tradisional, menurut Yudi, ada tahapan. Orang membuka kebun, menanam bambu atau pohon besar, memberi waktu pada tanah, mengolah kembali, lalu menanam jenis lain. Ada kesinambungan antara satu panen dan panen berikutnya. Ada ruang bagi tanah untuk beristirahat. Ada hubungan antara praktik bertani dan pembacaan terhadap musim.

Salah satu pengetahuan lokal yang disebut Yudi adalah kemampuan membaca tanda alam, misalnya rasi bintang Waluku. Dalam tradisi bertani lama, kemunculan atau hilangnya tanda langit dapat menjadi petunjuk masuknya musim tertentu. Dari sana orang tahu kapan mulai mengolah tanah, kapan menanam, kapan menyiangi, dan kapan memberi jeda. Pengetahuan seperti ini dituturkan secara lisan, dari orang tua ke anak, dari anak ke cucu, sambil dipraktikkan di kebun.

Masalahnya, ketika sistem monokultur semakin kuat, pengetahuan yang bergantung pada tuturan dan praktik ikut melemah. Ia tidak selalu tertulis dalam arsip. Ia hidup dalam tubuh orang-orang tua, dalam kebiasaan, dalam nama tempat, dan dalam istilah yang kini sering terdengar asing bagi generasi baru: reuma, tipar, talun. Ketika praktik hilang, kata-kata itu berubah menjadi nama kampung belaka.

“Kita Kembalikan Dulu, Adakan Dulu”

Kutipan paling penting dari Yudi muncul ketika ia berbicara tentang pelestarian. “Kita mau melestarikan apa kalau yang dilestarikannya enggak ada,” katanya. “Kita kembalikan dulu, adakan dulu, kita perkenalkan lagi.”

Kalimat itu mengandung kritik yang sangat mendasar. Sering kali, pelestarian dibicarakan seolah-olah objeknya masih utuh. Padahal, dalam kasus kebun talun, yang tersisa mungkin hanya nama, serpihan praktik, atau ingatan yang belum tersusun kembali. Maka langkah pertama bukan langsung “melestarikan”, tetapi memperkenalkan kembali. Menunjukkan bentuknya. Membuat kebun percontohan. Menjelaskan jenis tanamannya. Menghidupkan lagi logika ekologisnya. Menghubungkannya dengan kebutuhan ekonomi hari ini.

Bagi Yudi, kebun talun tidak bisa dihidupkan oleh satu orang atau satu kelompok kecil saja. Ia membutuhkan kerja bersama: kebijakan politik, dukungan akademisi, pendampingan organisasi masyarakat sipil, riset tanaman, riset pasar, riset sejarah, dan riset kebudayaan. Dengan kata lain, talun perlu dihidupkan sebagai ekosistem pengetahuan, bukan sekadar paket tanam.

Di sinilah program agroforestri dan FOLU dapat mengambil posisi sebagai penghubung. Bukan sebagai penemu talun, karena talun sudah lebih tua daripada bahasa program. Bukan pula sebagai pahlawan, karena pengetahuan dasarnya hidup dari masyarakat dan sejarah lokal. Peran yang lebih tepat adalah membantu memberi jalan pulang bagi pengetahuan lama: mendokumentasikan, mempraktikkan, mengadaptasi, dan menyambungkannya dengan kebutuhan ekologis serta ekonomi saat ini.

Warisan Budaya yang Harus Dibuat Terlihat Lagi

Tantangan terbesar kebun talun hari ini adalah keterputusan visual dan praktik. Banyak orang tidak tahu bentuk talun seperti apa. Tanaman apa yang harus ada? Bagaimana susunan tajuknya? Berapa luas minimalnya? Bagaimana menggabungkan pohon tahunan, tanaman buah, tanaman pangan, dan tanaman musiman? Bagaimana membuatnya tetap menguntungkan tanpa merusak tanah?

Yudi mengingatkan bahwa bahkan orang Sunda sendiri belum tentu mengenal lagi perbedaan antara reuma, tipar, dan talun. Jika istilah-istilah itu hendak diperkenalkan kembali, maka kebun percontohan menjadi penting. Orang perlu melihat, bukan hanya mendengar. Anak muda perlu diajak masuk ke kebun, bukan hanya membaca istilah dalam seminar. Petani perlu diyakinkan melalui hasil, bukan hanya melalui romantisme masa lalu.

Namun, menghidupkan talun juga tidak berarti menyalin masa lalu secara utuh. Yudi menekankan perlunya modifikasi sesuai kondisi saat ini. Kebutuhan ekonomi keluarga hari ini berbeda dari masa barter. Akses pasar berubah. Komoditas berubah. Iklim berubah. Tekanan lahan berubah. Karena itu, kebun talun masa kini perlu menyesuaikan diri: kopi dapat menjadi salah satu tanaman utama, alpukat atau buah-buahan lain dapat masuk sebagai tabungan jangka menengah, tanaman pangan lokal dapat menjaga ketahanan keluarga, dan tanaman kayu atau bambu dapat memperkuat fungsi ekologis.

Dengan cara itu, talun bukan museum. Ia menjadi sistem hidup yang beradaptasi.

Dari Nama Tempat Menjadi Arah Masa Depan

Cerita tentang talun di Kertasari bukan hanya cerita sejarah. Ia adalah cara melihat masa depan lanskap hulu. Jika daerah atas memiliki fungsi penting sebagai penyangga air, maka pola tanam di sana tidak bisa hanya dinilai dari hasil pasar jangka pendek. Ia harus dilihat dari kemampuan tanah menahan air, akar menjaga lereng, pohon memberi keteduhan, dan kebun memberi ruang hidup bagi keluarga.

Harapan Yudi sederhana, tetapi panjang: talun diperkenalkan kembali. Setelah dikenal, dipraktikkan. Setelah dipraktikkan, baru dilestarikan dan diperkuat. Ia membayangkan, dalam 10 sampai 20 tahun ke depan, wilayah atas yang menjadi penyangga air dapat kembali memiliki sistem kebun campuran yang lebih kuat secara ekologis dan tetap memberi keuntungan ekonomi.

Pesan untuk mitra, pemerintah, kampus, dan pendamping menjadi jelas: jangan hanya menyebut agroforestri sebagai istilah teknis, tetapi hubungkan dengan bahasa lokal yang memiliki akar. Jangan hanya menanam pohon, tetapi bangun pemahaman tentang susunan kebun. Jangan hanya mengejar jumlah bibit, tetapi pikirkan komposisi, fungsi, pasar, dan daya hidup pengetahuan lokalnya. Jangan hanya mendokumentasikan masa lalu, tetapi bantu masyarakat membuatnya terlihat kembali dalam bentuk kebun nyata.

Di Kertasari, talun mungkin pernah berubah menjadi nama kampung, nama yang diucapkan tanpa lagi dipahami sepenuhnya. Tetapi nama itu belum mati. Ia masih menyimpan jalan pulang. Dari kata yang tersisa, dari ingatan orang tua, dari naskah kuno, dari tanah yang pernah memberi makan banyak generasi, kebun talun dapat kembali dibaca sebagai warisan sekaligus tawaran masa depan.

Sebab kadang, jalan menuju agroforestri modern tidak selalu dimulai dari istilah baru. Ia bisa dimulai dari kata lama yang dibersihkan debunya, ditanam kembali maknanya, lalu dibiarkan tumbuh bersama pohon-pohon yang memberi hidup. Di lereng Kertasari, masa depan hutan rakyat mungkin sedang menunggu untuk dipanggil kembali dengan nama yang pernah sangat dikenal: talun.