“Barho”: Ketika Ibu-Ibu KWT Sukapura Minta Pengetahuan Tidak Berhenti di Pelatihan

Sore di Sukapura terasa seperti jeda pendek sebelum hujan turun. Di halaman desa, percakapan ibu-ibu mengalir di antara tawa kecil, sapaan Sunda, dan ingatan tentang kebun yang tidak pernah benar-benar jauh dari kehidupan sehari-hari. Ada singkong, ubi jalar, talas, jagung, sayuran, kopi, pekarangan rumah, dan tanah-tanah kecil yang terus dicari manfaatnya. Bagi banyak keluarga di desa ini, lahan bukan sekadar ruang kosong di sekitar rumah. Ia adalah dapur tambahan, tabungan kecil, tempat belajar, sekaligus tanda bahwa kehidupan desa masih bertumpu pada sesuatu yang tumbuh dari tanah.

Namun, seperti banyak cerita di desa-desa pertanian, kerja merawat tanah tidak selalu berjalan seimbang dengan nilai yang kembali kepada warga. Tanaman ada, kelompok ada, produk lokal ada, tetapi persoalan tidak berhenti pada kemampuan menanam. Ada tantangan mengolah, menjual, mencatat, memasarkan, menjaga kekompakan anggota, dan memastikan pengetahuan tidak hanya berhenti pada orang-orang yang kebetWulan hadir dalam satu pertemuan. Dalam ruang seperti itulah Kelompok Wanita Tani di Sukapura menemukan perannya: tidak selalu besar dalam ukuran lahan, tetapi penting dalam menjaga keterhubungan antara pekarangan, pangan keluarga, lingkungan, dan ekonomi kecil rumah tangga.

Di tengah percakapan itu, Wulan Novianti, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukapura, memperkenalkan dirinya dengan tenang. Di bawah PKK, ia menjelaskan, ada 10 program yang dibagi ke dalam beberapa Pokja. Salah satunya Pokja 3, tempat Kelompok Wanita Tani atau KWT bernaung. Di Desa Sukapura, terdapat tiga KWT: Sukamaju Waluya yang diketuai Ibu Aat, Mekarsari Waluya yang diketuai Ibu Erni, dan Sukapadang Waluya yang diketuai Ibu Lis Rohaeti. Nama-nama itu tidak hadir sebagai daftar organisasi, melainkan sebagai simpul kerja perempuan desa yang mengurus banyak hal sekaligus: kebun, pangan, posyandu, olahan rumah tangga, dan jejaring kecil ekonomi lokal.

“Awalnya mah kita tidak tahu FOLU itu apa”

Ketika pertama kali mendengar FOLU, Wulan mengaku tidak langsung memahami apa arti istilah itu. Bagi ibu-ibu KWT, istilah program sering datang dari luar dengan bahasa yang tidak selalu dekat dengan keseharian mereka. FOLU, agroforestri, penghijauan, tumpang sari, pemanfaatan lahan—semua istilah itu perlu diterjemahkan ke dalam pengalaman yang lebih konkret: menanam apa, di mana, bagaimana caranya, dan apa manfaatnya bagi keluarga.

“Awalnya mah, kita teh kadang-kadang enggak tahu itu apa. Apa FOLU itu apa? Kita enggak tahu,” kenang Wulan.

Tetapi rasa tidak tahu itu tidak membuat mereka menjauh. Justru, ada rasa penasaran. Mereka datang, ikut, mendengar, lalu mulai menangkap bahwa pembicaraan tentang FOLU tidak semata-mata tentang hutan dalam pengertian jauh dan besar. Bagi mereka, pintu masuknya lebih dekat: penghijauan, pemanfaatan lahan pekarangan, cara menanam, manfaat tanaman bagi lingkungan, dan bagaimana ruang-ruang kecil di sekitar rumah dapat ikut memperbaiki kehidupan.

Di titik ini, program hadir bukan sebagai jawaban final, tetapi sebagai pemantik. Ia membuka bahasa baru bagi praktik yang sebagian sebenarnya sudah dikenal warga. Sebelum ada kegiatan, KWT dan PKK sudah memiliki aktivitas. Mereka sudah menanam, mengolah, bekerja sama dengan posyandu, dan menghubungkan hasil kebun dengan pangan lokal. Namun setelah mengikuti kegiatan, ada penambahan pengetahuan: bahwa apa yang mereka lakukan dapat dibaca juga sebagai bagian dari penghijauan, perbaikan lahan, ketahanan pangan, dan praktik agroforestri yang lebih terarah.

Pekarangan yang ingin dibuat menghasilkan

Bagi Wulan, arah pengembangan KWT setelah mengikuti kegiatan itu cukup jelas: setiap rumah sebaiknya dapat memanfaatkan pekarangannya. Bukan hanya untuk tampak hijau, tetapi juga untuk menghasilkan sesuatu. Setidaknya, hasil itu dapat dikonsumsi sendiri. Lebih jauh, ia berharap pekarangan dapat membantu ekonomi keluarga.

“Setiap rumah itu, lahan pekarangan bisa dimanfaatkan dan bisa menghasilkan minimal untuk keluarga itu sendiri,” katanya. Di sebelahnya, Ibu Lis menambahkan dengan kalimat sederhana: “Menambah penghasilan.”

Di Sukapura, tanaman pangan yang disebut ibu-ibu bukan komoditas asing: singkong, ubi jalar, talas, dan jagung. Tanaman-tanaman itu adalah bagian dari dapur lokal, tetapi juga bahan dasar untuk kerja kolektif PKK dan KWT. Hasil dari kebun tidak selalu berhenti sebagai bahan mentah. Sebagian dijual ke warung, sebagian diolah, sebagian masuk ke kegiatan Pemberian Makanan Tambahan atau PMT untuk posyandu. Dalam inovasi Pokja 3, ada semangat “budayakan makan pangan lokal”, yang kemudian terhubung dengan menu B2SA untuk bayi, balita, dan ibu hamil.

Di sinilah cerita KWT Sukapura menjadi lebih dari sekadar cerita menanam. Ada rantai kecil yang sedang dibangun: dari kebun ke dapur, dari dapur ke posyandu, dari posyandu ke kesehatan keluarga, dan dari hasil panen ke UMKM. Dengan Pokja 2, mereka terhubung ke unit usaha lokal. Desa Sukapura memiliki beberapa UMKM, sebagian bergerak di bidang pengolahan makanan. Produk yang disebutkan beragam: keripik singkong, keripik ubi jalar, kremes ubi, wajik, manisan terong, manisan wortel, manisan pepaya, hingga keripik kentang.

Pada lapisan ini, perubahan teknis tidak selalu tampak dramatis. Tidak ada lompatan besar dari nol menjadi industri. Yang terlihat justru lebih halus: ibu-ibu mulai membaca pekarangan sebagai sumber pangan, produk, dan peluang. Mereka tidak hanya menanam untuk mengisi waktu, tetapi mulai menghubungkan tanaman dengan konsumsi keluarga, PMT posyandu, dan usaha kecil desa.

“Orangnya teh yang itu-itu aja”

Namun, setiap perubahan memiliki bagian yang belum selesai. Di Sukapura, tantangan pertama bukan hanya soal lahan atau bibit, melainkan kekompakan. Erni, Ketua KWT Mekarsari Waluya, menyampaikan hal itu dengan jujur. Dalam satu kelompok bisa ada banyak nama, tetapi ketika kerja pengolahan atau kegiatan KWT berjalan, orang yang hadir sering kali tetap orang yang sama.

“Kekompakan sih yang paling utama,” ujarnya. “Pas dalam pengolahan KWT-nya itu sendiri, orangnya teh yang itu-itu aja. Yang lainnya mah cuma nama.”

Kalimat itu penting karena menunjukkan bahwa kelembagaan tidak cukup hanya dibuktikan dengan struktur. Ada ketua, ada anggota, ada kelompok, tetapi kerja kolektif membutuhkan kehadiran, pembagian peran, dan rasa memiliki. Bagi KWT, tantangannya bukan sekadar membuat kegiatan, tetapi memastikan kegiatan itu tidak hanya ditopang oleh segelintir orang yang sama.

Tantangan kedua adalah pemasaran. Erni menyebut keterbatasan kemampuan IT sebagai kendala. Produk sudah ada. Kegiatan sudah berjalan. Tetapi pasar masih banyak berputar di sekitar Desa Sukapura. Penjualan daring belum berkembang. Pemasaran yang lebih modern masih terasa jauh, bukan karena ibu-ibu tidak punya produk, tetapi karena akses, kemampuan digital, dan pendampingan pasar belum cukup kuat.

Di titik ini, catatan kritis menjadi jelas: penguatan KWT tidak bisa berhenti pada pelatihan menanam. KWT membutuhkan pengetahuan pascapanen, pengolahan, desain produk, pencatatan sederhana, pemasaran digital, serta cara membagi peran agar anggota tidak hanya hadir di daftar nama. Tanpa itu, pekarangan yang produktif tetap berisiko berhenti sebagai kegiatan lokal yang manfaat ekonominya terbatas.

Kopi, sayuran, dan peluang yang belum sampai ke sana

Saat berbicara tentang lahan KWT, Wulan menyebut bahwa saat ini tanaman yang dominan masih sayuran. Tanaman keras belum banyak. Mereka pernah memiliki kegiatan pembibitan kopi melalui kerja sama dengan pemerintah desa dan pihak terkait. Kopi bagi mereka bukan tanaman asing. Di Sukapura sudah ada olahan kopi, termasuk kopi giling dari UMKM lokal seperti Abajadun dan Halawa. Namun, produk kopi masih berada pada bentuk yang sederhana.

Ketika percakapan menyentuh kulit kopi atau cherry, muncul kemungkinan baru: cascara. Wulan mengaku belum tahu. Saat dijelaskan bahwa kulit kopi yang dikeringkan dapat menjadi bahan minuman, responsnya spontan dan terbuka: “Kita belum sampai ke sana tuh. Nantilah, ya, langkah berikutnya.”

Kalimat itu mencerminkan posisi Sukapura saat ini. Mereka bukan tidak bergerak. Mereka sudah memiliki bahan, produk, dan jejaring lokal. Tetapi banyak peluang nilai tambah masih berada di depan, belum sepenuhnya tersentuh. Kulit singkong bahkan sudah dimanfaatkan menjadi keripik atau kerupuk. Kulit kentang masuk ke POC atau lubang biopori. Limbah rumah tangga dikelola melalui bank sampah, Barakatajaga—barang bekas rumah tangga menjadi berharga—serta sabun minyak jelantah dengan ekoenzim, meskipun sebagian masih menjadi gift acara dan belum dijual luas.

Dari sini terlihat bahwa mindset pemanfaatan sudah tumbuh. Yang belum matang adalah ekosistem usaha: bagaimana produk diberi standar, dikemas, diberi cerita, dihitung biayanya, dipasarkan, dan disambungkan ke pembeli yang lebih luas. KWT Sukapura tidak kekurangan aktivitas. Yang mereka butuhkan adalah jalan agar aktivitas itu naik kelas tanpa kehilangan akar lokalnya.

“Memorinya perlu dicas lagi”

Kutipan paling kuat dari Wulan muncul ketika ia berbicara tentang harapan keberlanjutan. Ia tidak meminta program berhenti pada satu kali kegiatan. Ia memakai perumpamaan yang sederhana, dekat, dan lucu: seperti telepon genggam, pengetahuan ibu-ibu perlu “dicas” Wulang.

“Kalau HP mah dicas. Ibu-ibu mah memorinya perlu dicas lagi,” katanya, lalu menjelaskan istilah Sunda barho: bubaran poho, setelah bubar lalu lupa.

Di balik kelakar itu ada pesan serius tentang desain pendampingan masyarakat. Pelatihan satu kali sering kali memberi semangat awal, tetapi tidak selalu cukup untuk mengubah praktik. Pengetahuan perlu diWulang, dipraktikkan, didampingi, dan dikaitkan dengan kebutuhan nyata. Apalagi bagi kelompok yang anggotanya memiliki banyak peran domestik dan sosial, belajar tidak selalu berlangsung dalam ruang kelas formal. Ia terjadi sambil mengolah singkong, menyiapkan PMT, mengurus posyandu, membersihkan halaman, menanam sayuran, atau berdiskusi selepas hujan.

Maka, barho bukan sekadar lelucon. Ia adalah konsep lokal tentang rapuhnya ingatan program jika tidak dijaga oleh proses lanjutan. Ia mengingatkan bahwa pendampingan yang baik bukan hanya datang membawa materi, tetapi kembali untuk memastikan materi itu hidup dalam praktik. Dalam konteks KWT Sukapura, “dicas lagi” berarti pelatihan berWulang, praktik langsung, penataan lahan, pemasaran, pengolahan produk, dan pendampingan sampai anggota benar-benar mampu menjalankan sendiri.

Dari pekarangan kecil menuju perubahan yang lebih panjang

Harapan ibu-ibu KWT Sukapura tidak muluk. Mereka ingin lahan lebih tertata. Mereka ingin KWT berkembang, lebih maju, dan manfaatnya terasa bagi masyarakat. Mereka ingin setiap rumah memiliki tanaman yang berguna. Mereka ingin produk yang sudah ada tidak berhenti di lingkungan sekitar desa. Mereka ingin pengetahuan tentang penghijauan, agroforestri, dan pemanfaatan pekarangan tidak hilang setelah acara selesai.

Bagi mitra program, pemerintah, kampus, pendamping, dan pembeli, pesan dari Sukapura cukup konkret. Pendampingan berikutnya perlu bergerak dari kesadaran menuju praktik yang lebih terukur. KWT membutuhkan bantuan penataan lahan, penguatan produk lokal, pelatihan pemasaran digital yang sesuai kemampuan anggota, pencatatan sederhana, pengembangan olahan kopi dan non-kopi, serta strategi agar anggota yang selama ini pasif dapat ikut merasa memiliki. Program yang baik tidak berhenti pada hadirnya peserta dalam pelatihan, tetapi pada kemampuan kelompok menjaga praktik setelah pendamping pWulang.

Sukapura menunjukkan bahwa transformasi kadang dimulai dari hal-hal yang tampak kecil: pekarangan rumah, singkong untuk PMT, keripik dari hasil kebun, kopi giling sederhana, sabun minyak jelantah, atau tawa ibu-ibu ketika menyebut barho. Tetapi dari hal kecil itulah fondasi perubahan sering dibangun. Di tangan ibu-ibu KWT, lahan sempit dapat menjadi ruang belajar. Pangan lokal dapat menjadi jalan ketahanan keluarga. Sampah dapat menjadi produk. Kopi dapat menjadi peluang nilai tambah. Dan pengetahuan, jika terus “dicas”, dapat tumbuh menjadi keberdayaan yang lebih lama hidupnya daripada satu kali pelatihan.

Dari pekarangan-pekarangan kecil Sukapura, masa depan agroforestri rakyat tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tetapi oleh ingatan kolektif yang terus dirawat—agar setelah bubar, mereka tidak lupa; dan setelah belajar, mereka benar-benar bisa menumbuhkan perubahan dari tanah yang paling dekat dengan rumah.